Saturday, February 11, 2017
BURU-BURU CINTA
Friday, March 4, 2016
PUISI MAGHRIB
Monday, August 13, 2012
Mulanya Cinta
Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Hanya lewat gurat kata-kata
Aku, dia bertegur sapa
Dalam bayangan semata
Aku, dia hangat bercengkerama
Melalui ketukan tuts-tuts angka
Kami menjajal asmara
Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Ketika kata berbuah suara
Aku, dia berjumpa
Dalam sejuta terka
aku, dia saling meraba
Melalui sinyal tak kasat mata
Kami membangun cinta
Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Pada perjumpaan yang langka
Aku, dia bertemu mata
Di kesunyian ruang temu keluarga
Aku, dia bertukar pesona
Dalam pertemuan yang terjaga
Kami kokohkan asa
Tuesday, February 7, 2012
PUJANGGA YOGYA
DINGIN
Menuju titik minus di belakang nol, pada sumbu asmara
Angin keheningan sudah terasa dinginnya
Menyelusup ke balik selimut angan-angan
Senin begitu,
Selasa begitu,
Rabu begitu,
Kamis begitu,
Jumat begitu,
Sabtu begitu,
Minggu begitu,
Senin begitu,
Selasa begitu,
Rabu beg... Akankah hidup terus begitu ?
MALAM
Di sini gelap
Cahaya nurani terangnya redup
Jalan keluar yang mudah
tak nampak sudah
Di sini gelap
Lagi sesak
Asap neraka terperangkap
Kipas-kipas sayap hati tiada guna
Di sini gelap
Bising pula
Melengking nada-nada memikat
Sayang, isinya laknat
Ke mana engkau, hai malaikat ?
Di sini gelap
Terjerembap
Kadung
Toh Tuhan Maha Pengampun
Mudah-mudahan besok terang
Dia masih Maha Pengampun
NGANTUK
Tuhan...
Aku tahu bila setelah mataku terpejam
Masalah tetap terjaga
Aku tahu bila setelah mataku terbuka
Masalah masih terbangun
Aku tahu bila setelah badanku bugar
Masalah tetap segar
Aku tahu, Tuhan
Tidak meminta berlebihan
Berikan saja aku istirahat yang nyenyak
Amin.
Sunday, August 21, 2011
HP Second
|
Friday, May 27, 2011
JURU SORTIR
Thursday, May 26, 2011
PERJANJIAN
Thursday, December 3, 2009
HAI KAWULA MUDA SUDAH BISA APA ?
Sudah bisa apa ?
Banyak laga gandeng wanoja
Katanya sih gairah cinta remaja
Belikan kado segala rupa
Padahal isi kantong hasil minta
Antar sini, jemput sana
Lho, kau ini kekasih atau hamba ?
Diwanti eh malah meronta
Dia bilang iman masih setebal baja
Sudah bisa apa ?
Bangga nian sanding si dia
Wajar memanglah wajar, tapi tidak bermakna dewasa
Doyan betul berduaan saja
Awas, setan ada di pihak ketiga
Gendong ke Singapur-pun, rela saja
Suruh antar adik ke klinik, cemberut muka
Traktir kudapan mewah, hadiahkan sejuta bunga
Sejak kapan kau jadi pujangga kaya raya ?
Sudah bisa apa ?
Semua juga ada masanya
Hanya mohon sabar agak lama
Daripada meneguk dosa
Atau buang uang dengan percuma
Lazim, tapi tidak berarti kitapun harus senada
Beranilah tampil beda
Toh resikonya tak seberapa
Saya juga bilang apa…
Tuhan dan norma-Nya itu tak nyata
Namun nafsu bertopeng cinta
Itulah sebuah fakta, riil, mewujud, ada
Sesal dosa tinggal di dada
Masih untung tak kena sakit hina
Tapi kini ia berbadan dua
Sekarang mau apa ?
Jangan-jangan sudah tak cinta
Omong-omong, sudah punya usaha ?
Wah… malah terpikir hilangkan nyawa
Minta kawin dengan paksa
Sandang pangan saja masih andalkan keluarga
Mentalnya saja belum nampak di mata
Apalagi agama, entah ke mana
Pakai argumen cukup dewasa
Alasan takut berzina
Jatuh derajat pernikahan manusia
Hanya untuk pelampiasan belaka
Sudah bisa apa ?
Banyak laga gandeng wanoja
Doyan betul berduaan saja
Semua juga ada masanya
Keumuman tak selalu harus sama dengan kita
Itu bukanlah pula pertanda dewasa
Cuma khawatir tergoda nikmatnya zina
Tapi tak perlu juga minta kawin muda
Bandung, 21 November 2009
Tuesday, November 24, 2009
Tepian Iman

Aku bersembah di bibir jurang
Lecet berdarah-darah ujung-ujung jariku
Mencakar sepanjang dinding batu
Landas yang gelap, beracun dan penuh perangkap di bawah sana
Aku merayap penuh harap
Satu butir peluh, satu lafadz dzikir
Segala puja dan doa menderas seiring degupan jantung
Aku bersujud di tepian sungai
Berjalan dengan penuh jumawa
Suka dan bangga meletup-letup di dalam dada
Tak ingat hampir mampus terhanyut
Lupa siapa yang diseru-seru kala terjebak arus
Abaikan waktu lampau
Seakan masa kini datang sendirinya
Aku beribadah di titian garis pragmatis
Tipis, nyaris
Aku terjerambab, wajahku berpaling dari-Nya
Saat aku meniti, sedikit tempat sedia di hati untuk-Nya
Rawan, riskan
“Dan dari sebagian manusia, ada yang beribadah kepada Allah di tepian… “
(Q.S. Al-Hajj : 11)
Bandung, 18 November 2009
Utara & Selatan
Kutub utara – kutub utara
Terpisahkan kaca tebal imajiner
Semakin dekat, semakin bertahan
Tambah paksa, tambah kuat
Terpental menjauhi titik tengah
Engkau pergi dengan vektor negatif
Ujung selatan – ujung selatan
Ada sesuatu yang ghaib diantaranya
Sini mendekat, sana mendorong
Hanya bertemu pada jarak berbatas
Tegur sapa di kedudukan sendiri-sendiri
Penjuru utara – sudut selatan
Riuh rendah sorak penonton
Utara menghangat, selatan teguh
Sorai pemirsa penuh gairah
Utara kukuh, selatan mencair
Grafik nuansa melandai anggun
Pemerhati kembali ke garis stabil
Utara dingin, selatan membeku
Utara – utara
Terpisah kaca tebal imajiner
Selatan – selatan
Ada yang ghaib diantaranya
Bandung, 13 November 2009




