Showing posts with label SAJAK-SAJAKAN. Show all posts
Showing posts with label SAJAK-SAJAKAN. Show all posts

Saturday, February 11, 2017

BURU-BURU CINTA




Ada biduanita yang berdendang; “Cinta jangan buru-buru,”
Ya, aku setuju,
Kala aku di usiamu.

Kala semuanya serba dulu,
Harus punya A dulu,
Minimal sudah B dulu,
Ingin tunaikan K dulu,
Mestinya O dulu,
Sebaiknya K dulu,
Sampai Z aksen dan barulah terbeliak bahwa waktu sudah banyak berlalu.

Friday, March 4, 2016

PUISI MAGHRIB



Sudah masuk bulan ketiga di tahun 2016 dan belum satupun tulisan yang saya masukkan ke laman blog ini. Masalah klasik; ide ada, semangatnya yang entah ke mana. Malas. Korek-korek buku catatan, ternyata pernah juga saya menggurat beberapa tulisan yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah puisi. Dari pada tidak ada sama sekali, maka inilah tulisan pertama blog kutrat-kotret di 2016, rentetan puisi-puisian karya saya, mudah-mudahan bisa dinikmati :


 MAGHRIB

Mengapa kau masih bersenda gurau di luar sana ?,
Tak kah kau takut dilalaikan setan ?,
Sedang aku di lawang pintu menanti penuh kecemasan ?,
Tak kah kau dengar lengkingan panggilan ?,
Aku yang mencarimu agar lekas kembali.

Mengapa kau masih bermain di luar sana ?,
Tak kah kau lihat langit telah memerah ?,
Seberapa jauh kakimu dari rumah ?,
Tak kah kau ingin menemani ayah ?,
Menikmati langit menelan mentari.

Nak,
Bapak sudah menjelang maghrib,
Pulanglah…

                                                Bekasi, 19 Februari 2016

Monday, August 13, 2012

Mulanya Cinta


Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Hanya lewat gurat kata-kata
Aku, dia bertegur sapa
Dalam bayangan semata
Aku, dia hangat bercengkerama
Melalui ketukan tuts-tuts angka
Kami menjajal asmara

Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Ketika kata berbuah suara
Aku, dia berjumpa
Dalam sejuta terka
aku, dia saling meraba
Melalui sinyal tak kasat mata
Kami membangun cinta

Sebagaimana orang-orang tua
Di zaman dahulu kala
Pada perjumpaan yang langka
Aku, dia bertemu mata
Di kesunyian ruang temu keluarga
Aku, dia bertukar pesona
Dalam pertemuan yang terjaga
Kami kokohkan asa


Bekasi, 13 Agustus 2012
22:30 Wib




Tuesday, February 7, 2012

PUJANGGA YOGYA


DINGIN

Menuju titik minus di belakang nol, pada sumbu asmara
Angin keheningan sudah terasa dinginnya
Menyelusup ke balik selimut angan-angan

JENUH

Senin begitu,
Selasa begitu,
Rabu begitu,
Kamis begitu,
Jumat begitu,
Sabtu begitu,
Minggu begitu,
Senin begitu,
Selasa begitu,
Rabu beg... Akankah hidup terus begitu ?


MALAM

Di sini gelap
Cahaya nurani terangnya redup
Jalan keluar yang mudah
tak nampak sudah

Di sini gelap
Lagi sesak
Asap neraka terperangkap
Kipas-kipas sayap hati tiada guna

Di sini gelap
Bising pula
Melengking nada-nada memikat
Sayang, isinya laknat
Ke mana engkau, hai malaikat ?


Di sini gelap
Terjerembap
Kadung
Toh Tuhan Maha Pengampun
Mudah-mudahan besok terang
Dia masih Maha Pengampun




NGANTUK


Tuhan...
Aku tahu bila setelah mataku terpejam
Masalah tetap terjaga
Aku tahu bila setelah mataku terbuka
Masalah masih terbangun
Aku tahu bila setelah badanku bugar
Masalah tetap segar
Aku tahu, Tuhan
Tidak meminta berlebihan
Berikan saja aku istirahat yang nyenyak
Amin.


Dibuat sekadar mengisi kekosongan lembar catatan maya ini
Dari Yogyakarta
Di tengah rutinitas yang membosakan
07-02-2012

Sunday, August 21, 2011

HP Second



Kau lihat barang ini ?
Ini dia si HP second
Tinta key pad-nya lunturlah sudah
Cat body-nya lecet di sana-sini
Layarnya mengerjap-ngerjap
Modelnya milik khalayak
Terpajang di setiap counter

Kau lihat orang itu ?
Itulah si pembeli pandir
Ia sombong dapat HP pasaran
Diotak-atik setiap waktu
Dibangga-banggakan ke setiap orang
Key pad luntur tak jadi soal
Body lecet tiada ia peduli
Layar redup tidak dihiraukan
Asal bagus dijinjing, keren disanding
Cukup senang dengan mesin yang masih oke

HP second berpindah tangan
Dari si anu ke si anu, kemudian si anu, lalu si anu
Banyak pembeli siap tampung
Bosan pakai, tinggal lempar
Pembeli pandir bukan pembeli bajingan
Tapi pandir ya berarti goblok
Masih bernalar
Namun jauh dari batas cerdas

HP second bukan HP rusak
Tapi second ya berarti bekas
Masih optimal
Namun drastis di bawah 100 %

Pembeli pandir bukan pembeli bajingan
Tapi pandir ya berarti goblok
Masih bernalar
Namun jauh dari batas cerdas


Bandung, 18 November 2009

Friday, May 27, 2011

JURU SORTIR


Terinspirasi dari peristiwa yang terjadi di Balikpapan, 14 Maret 2011.

Mata juru sortir tak berhenti melirik-lirik.
Sebentar ke mesin ketik elektrik.
Sebentar ke si orang di depannya, yang pakai baju batik.
Bukan barang yang sedang si juru sortir tilik.
Namun dia, si baju batik.

Thursday, May 26, 2011

PERJANJIAN


Terinspirasi dari sebuah adegan yang terjadi pada tanggal 28 Februari 2011, di kantor pusat sebuah perusahaan kontraktor tambang.

Orang itu, yang duduk di depan pejabat kepegawaian, terlihat membolak-balik lembaran-lembaran kertas dengan hampa.
Perihal isi di dalam surat, saya yakin ia sudah paham benar seluruhnya.
Meski mata terpancang, sungguh tidaklah ia sedang membaca.
Otaknya entah ke mana.

Thursday, December 3, 2009

HAI KAWULA MUDA SUDAH BISA APA ?

Sudah bisa apa ?

Banyak laga gandeng wanoja

Katanya sih gairah cinta remaja

Belikan kado segala rupa

Padahal isi kantong hasil minta

Antar sini, jemput sana

Lho, kau ini kekasih atau hamba ?

Diwanti eh malah meronta

Dia bilang iman masih setebal baja


Sudah bisa apa ?

Bangga nian sanding si dia

Wajar memanglah wajar, tapi tidak bermakna dewasa

Doyan betul berduaan saja

Awas, setan ada di pihak ketiga

Gendong ke Singapur-pun, rela saja

Suruh antar adik ke klinik, cemberut muka

Traktir kudapan mewah, hadiahkan sejuta bunga

Sejak kapan kau jadi pujangga kaya raya ?


Sudah bisa apa ?

Semua juga ada masanya

Hanya mohon sabar agak lama

Daripada meneguk dosa

Atau buang uang dengan percuma

Lazim, tapi tidak berarti kitapun harus senada

Beranilah tampil beda

Toh resikonya tak seberapa


Saya juga bilang apa…

Tuhan dan norma-Nya itu tak nyata

Namun nafsu bertopeng cinta

Itulah sebuah fakta, riil, mewujud, ada

Sesal dosa tinggal di dada

Masih untung tak kena sakit hina

Tapi kini ia berbadan dua

Sekarang mau apa ?

Jangan-jangan sudah tak cinta

Omong-omong, sudah punya usaha ?

Wah… malah terpikir hilangkan nyawa


Sudah bisa apa ?

Minta kawin dengan paksa

Sandang pangan saja masih andalkan keluarga

Mentalnya saja belum nampak di mata

Apalagi agama, entah ke mana

Pakai argumen cukup dewasa

Alasan takut berzina

Jatuh derajat pernikahan manusia

Hanya untuk pelampiasan belaka


Sudah bisa apa ?

Banyak laga gandeng wanoja

Doyan betul berduaan saja

Semua juga ada masanya

Keumuman tak selalu harus sama dengan kita

Itu bukanlah pula pertanda dewasa

Cuma khawatir tergoda nikmatnya zina

Tapi tak perlu juga minta kawin muda

Bandung, 21 November 2009

Tuesday, November 24, 2009

Tepian Iman


Aku bersembah di bibir jurang
Lecet berdarah-darah ujung-ujung jariku
Mencakar sepanjang dinding batu
Landas yang gelap, beracun dan penuh perangkap di bawah sana
Aku merayap penuh harap
Satu butir peluh, satu lafadz dzikir
Segala puja dan doa menderas seiring degupan jantung

Aku bersujud di tepian sungai
Berjalan dengan penuh jumawa
Suka dan bangga meletup-letup di dalam dada
Tak ingat hampir mampus terhanyut
Lupa siapa yang diseru-seru kala terjebak arus
Abaikan waktu lampau
Seakan masa kini datang sendirinya

Aku beribadah di titian garis pragmatis
Tipis, nyaris
Aku terjerambab, wajahku berpaling dari-Nya
Saat aku meniti, sedikit tempat sedia di hati untuk-Nya
Rawan, riskan

“Dan dari sebagian manusia, ada yang beribadah kepada Allah di tepian… “
(Q.S. Al-Hajj : 11)


Bandung, 18 November 2009

Utara & Selatan


Kutub utara – kutub utara

Terpisahkan kaca tebal imajiner

Semakin dekat, semakin bertahan

Tambah paksa, tambah kuat

Terpental menjauhi titik tengah

Engkau pergi dengan vektor negatif


Ujung selatan – ujung selatan

Ada sesuatu yang ghaib diantaranya

Sini mendekat, sana mendorong

Hanya bertemu pada jarak berbatas

Tegur sapa di kedudukan sendiri-sendiri


Penjuru utara – sudut selatan

Riuh rendah sorak penonton

Utara menghangat, selatan teguh

Sorai pemirsa penuh gairah

Utara kukuh, selatan mencair

Grafik nuansa melandai anggun

Pemerhati kembali ke garis stabil

Utara dingin, selatan membeku


Utara – utara

Terpisah kaca tebal imajiner

Selatan – selatan

Ada yang ghaib diantaranya

Bandung, 13 November 2009