Friday, August 20, 2010
APA YANG PATUT DIBANGGAKAN DARIMU, IBU PERTIWI ?
Sunday, January 10, 2010
MERENUNGI KEMACETAN
Banyak pakar memprediksikan bahwa pada titik puncaknya nanti, kemacetan jalan raya akan sampai di depan pintu-pintu rumah kita. Artinya, begitu kita mengeluarkan kendaraan dari garasi, kita langsung terjerumus ke dalam rangkaian panjang antrian kendaraan. Terdengar lebay, namun ramalan ini didasarkan para pengamat kepada fakta tingkat pertumbuhan kendaraan yang sudah seperti marmot beranak. Agak lebih pasti terjadi dari pada perkiraan kiamat pada tahun 2012.
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya ramalan mengerikan itu, beberapa tahun lalu Pemprov DKI melakukan studi banding ke Bogotta, Kolombia. Pulangnya, mereka membawa oleh-oleh busway dan monorail. Kota besar lain yang memiliki kekhawatiran sama akan bahaya kemacetan, terpancing ikut-ikutan. Alhasil, meskipun tidak sama persis, di Yogyakarta kini telah beroperasi TransJogja. Belakangan, Bandung menerjemahkan busway-nya Jakarta itu ke dalam konsep tidak keruan yang bernama Trans Metro Bandung (TMB). Adapun ide monorail dikembangkan menjadi kereta api subway, namun karena setelah dipikir-pikir agak mustahil, beralihlah lirikan Pemkot ke moda transportasi model mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT).
Reorientasi masyarakat kepada penggunaan transportasi umum, dipandang merupakan cara paling efektif untuk mengurangi dan mencegah kemacetan agar tidak bertambah kronis. Di berbagai media massa, masalah kualitas transportasi umum yang tak memuaskan sering juga dikambinghitamkan sebagai penyebab kenapa masyarakat lebih memilih membeli dan menggunakan kendaraan pribadi yang ujung-ujungnya berbuah kemacetan. Asumsi teoritiknya simple saja; jika masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi umum, maka otomatis kendaraan-kendaraan pribadi mereka takkan terpakai, niat untuk membeli kendaraan merendah dan dengan demikian berarti jumlah kendaraan di jalanan akan berkurang.
Mengusahakan agar masyarakat lebih menyukai bepergian dengan transportasi umum, memang salah satu upaya yang mesti ditempuh dengan serius. Namun sebetulnya, usaha ini belum menyentuh area inti dari permasalahan kemacetan. Singkat kata, baru di kulitnya saja. Jika kita mengorek sampai mengoyak dagingnya, maka akan kita temukan bahwa core problem kemacetan ini ada pada soal budaya konsumsi masyakarat zaman sekarang.
Di dunia bisnis modern, gerak perusahaan bukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat lagi, tetapi menjurus ke arah menciptakan kebutuhan di masyarakat. Mengenai hal tersebut, two thumbs up untuk industri-industri otomotif yang berhasil menciptakan kebutuhan baru di masyarakat, yakni kebutuhan primer untuk memiliki mobil dan motor. Semua lapisan masyarakat; kere-kaya, tua-berondong, cowok-cewek, tamatan SD-jebolan universitas, semuanya dicekoki paham mobil-isme serta motor-isme secara merata. Pada tahapan selanjutnya, pemenuhan kebutuhan inipun bergerak dan berubah ke dalam bentuk baru yang disebut gaya hidup. Dengan kata lain, kini masyarakat cenderung ingin memiliki kendaraan bukan karena asas kebutuhan lagi tapi lebih karena trend-nya sekarang sedang seperti itu. Bila dianalogikan, fenomena kepemilikan kendaraan sudah sama seperti kasus kepemilikan HP (hand phone).
Dikarenakan persoalan kepemilikan kendaraan pribadi ini sudah mencapai taraf life style, maka solusi mengurangi kemacetan dengan peningkatan kualitas angkutan umum atau pembuatan angkutan umum model baru, tidak akan memecahkan permasalahan. Peribahasa mengatakan; anjing menggonggong, kafilah berlalu. Pada akhirnya yang menaiki angkutan umum hanyalah orang-orang yang kebetulan sampai saat itu belum punya kendaraan pribadi atau mungkin kendaraannya sedang ngadat. Sementara mereka yang sudah punya mobil-motor pribadi tetap bertahan dengan kendaraan mereka masing-masing, di samping jumlah golongan ini juga akan cenderung terus bertambah. Bukti kongkritnya silakan saja lihat sejauh mana dampak busway terhadap menurunnya tingkat kemacetan di Jakarta; Apakah dampaknya signifikan ? Anda, sebagaimana halnya saya mungkin akan geleng-geleng kepala. Empuknya tempat duduk, dinginnya udara ber-AC dan jalur yang dijamin bebas macet, ternyata belum mampu menarik orang untuk beralih ke busway. Adapun di sisi lain, kendaraan – terutama motor – semakin banyak menyemut di jalanan.
Keputusan Kecil yang Tiran
Di sisi lain, gaya hidup berkendaraan ini, selain menumpulkan keefektifan transportasi umum dalam mengurangi kemacetan, ia juga mencerminkan betapa semakin hari manusia ternyata semakin arogan dan egosentris. Rasa kebersamaan dan kepedulian berkurang secara drastis. Hirsch menyebutnya sebagai “the tyranny of small decisions”. Pertimbangan bahwa jika saya membeli mobil atau motor, maka akan berdampak pada kemacetan atau kerusakan lingkungan menjadi hilang, yang terpenting ialah saya bisa punya kendaraan.
Dalam tataran sederhana arogansi itu terlihat ketika seorang anak remaja mengganti knalpot motornya dengan knalpot racing, yang menurut dia keren tapi bikin orang ingin ngelempar bata padanya. “Kejam benar kalian, sekalian saja istri saya kalian rampas”, pekik eks-Bupati Pelalawan, Azmum Jafar, saat menolak permintaan tim KPK agar beliau sudi menandatangani berita acara penyitaan rekening-rekening miliknya yang diduga diisi dari uang haram hasil korupsi. Nah, kalau yang barusan ialah contoh perilaku egosentris pada tataran yang lebih tinggi lagi.
Semangat Untuk Pulih
Kembali ke soal kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, harus diberlakukan hukum qishash; urusan mata dibayar mata, hutang tangan dibayar tangan, hilang nyawa diganti nyawa. Maka permasalahan kemacetan yang lebih karena gaya hidup dalam berkendaraanpun harus dipecahkan melalui langkah-langkah yang langsung menusuk ke wilayah ini. Apa bentuknya ?
Tentu saja mari kita mulai dari hal yang paling kecil, yaitu dengan dimulai dari diri kita sendiri dulu. Sebelum kita mengambil sebuah keputusan kecil namun tiran, dengan cara membeli kendaraan, mari kita tanya diri kita sendiri; Apakah saya sudah betul-betul butuh beli mobil/motor ? Sejauh apa saya membutuhkan kendaraan ?
Mari kita sama-sama belajar adil. Dalam konsep Islam, adil ialah “wad’u syaiin a’la mahalihi”, atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Nasional RI berarti “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Makna sederhananya; kalau memang butuh ya belilah kendaraan, tapi kalau memang tak perlu atau hanya sekadar “panas” oleh trend saja maka janganlah ia dibuat seolah-olah butuh.
Terlihat mudah namun sebetulnya memerlukan usaha keras untuk bisa mencapai taraf itu. Sejujurnya, penulis sendiripun ragu bisa se-adil tersebut. Salah satu kendalanya ialah toleransi kita yang amat tinggi terhadap kelaziman zaman. Maksudnya, sering kali kita memandang sesuatu yang tak perlu itu tetap harus dilaksanakan hanya karena alasan; memang zamannya sudah berubah, memang tuntutannya sudah berbeda, toh semua orang juga begitu.
Bahanyanya toleransi yang semakin tinggi ini rupanya dapat menular pada hal-hal lain yang menurut kaca mata saya lebih gawat dari masalah kemacetan. Anak si anu married by accident, kita bergumam; “Ah wajar, memang zamannya”. Si B dan si C cerai, padahal baru setahun menikah, kita berkomentar; “Ah biasa, memang zamannya”. Pejabat D korupsi uang rakyat triliunan rupiah, kita menanggapi; “Ah maklum, sudah zamannya”.
Semakin banyak toleransi, semakin kita terbiasa menganggap sesuatu yang urgent sebagai collateral damage semata. Kerusakan sampingan, kalau kata orang kedokteran; side effect. Ya, kita pun sadar bahwa efek samping selalu ada. Kitapun sepertinya setuju dengan Pincus (1972) yang menggambarkan soal efek samping ini melalui pernyataan puitis; “there is no growth without pain and conflict”. Kemacetan dan kerusakan lingkungan ialah dampak ikutan dari pertumbuhan masyarakat yang semakin maju dan modern. Namun tentu saja, kesadaran ke arah sana tidak berarti harus melumpuhkan semangat kita untuk memulihkan pain dan conflict yang timbul seiring bergulirnya roda waktu. Pain yang dirasakan alam akibat asap-asap beracun kendaraan, masih bisa kita perbaiki dengan usaha-usaha pelestarian lingkungan. Conflict sosial yang timbul karena stress kemacetan, masih bisa kita redam dengan perilaku konsumsi yang bijak. Dan mudah-mudahan semangat memulihkan kondisi yang rusak ini tidak hanya di soal kemacetan saja, tetapi juga merambah pada aspek-aspek lain yang sudah masuk stadium genting.
Monday, November 9, 2009
HAMAS YANG SERBA SALAH
Mungkin anda juga menyaksikan tayangan acara “Debat” pada hari rabu malam lalu (14/1) di stasiun TV One. Malam itu, tema yang diusung yakni mengenai; “Apakah Obama mampu memberikan pencerahan terhadap nasib Bangsa Palestina ?”. Empat pengamat timur tengah dari dua kubu yang saling berseberangan bertemu. Dua dari yang pro-Palestina sekaligus pesimis dengan harapan bahwa Obama mampu membawa angin segar bagi rakyat Palestina, sedangkan dua lagi merupakan kubu pro-Amerika yang tampak sangat yakin dan optimistis kalau Obama akan bisa mengadakan perubahan besar.
Hal yang menarik ialah pendapat yang diutarakan oleh seorang pengamat dari Moslem Moderat Society pada sesi kedua acara tersebut. Ya, dari nama organisasinya saja kita langsung ngeh kalau si doi pasti seorang fans berat ide-ide apapun yang made in
Mmmm… lagi-lagi Hamas yang dikambinghitamkan. Lalu kapan giliran Yahudi
Yah kasihan Hamas,
Padahal, kalau mau lihat secara objektif, tanpa Hamas mungkin Palestina sudah innalillahi sejak lama. Partai Fatah terlalu lembek, terlalu enteng dalam meneken
Namun apa daya, Yahudi lewat bonekanya (baca : Amerika) kini berkuasa penuh atas dunia ini. Warga dunia oke-oke saja, mufakat kalau Hamas yang salah, yang jadi pemancing amarah
Kebenaran selalu muncul dalam berbagai cara, bagaimanapun kebohongan mencoba menutupinya. Kemenangan Hamas dalam pemilu beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa rakyat Palestina telah menyadari, siapa pahlawan dan yang mana pengecut. Di tengah gencatan senjata semu (karena
Isu perundingan damai kembali bergulir. Ismael Haneeya, petinggi Hamas, menyatakan bahwa tangan Hamas terbuka lebar bagi perundingan tersebut. Asal saja pihak
Mari kita dukung dan doakan perjuangan Hamas pada perundingan itu nanti. Karena seperti pembukaan UUD 1945 mengatakan; “Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
BEDEBAH KAU ISRAEL !
Holocaust
Sampai hari ke-19 (Kamis, 15 Januari), hujan bom fosfor putih dan bom curah, rentetan peluru senapan otomatis dan dentuman meriam tank baja, dari –yang terkutuk– Israel telah mengakibatkan 1.000 warga tak berdosa Palestina kehilangan nyawa. Sedangkan sekitar 4.500 orang lainnya luka-luka berat. Termasuk ke dalam korban tewas serta luka ialah mereka kaum yang lemah; wanita dan anak-anak. Persediaan bahan bakar untuk menyalakan generator rumah sakit yang terus menipis dan habisnya stok obat bius, semakin menambah berat derita warga Palestina di jalur
Dunia Yang Impoten
Sementara itu, reaksi warga dunia baru bisa sebatas mengecam saja. Mesir yang dulu berani menjadi pemimpin Liga Arab dalam Perang Arab-Israel sekitar 30 tahunan yang lalu, kini ciut nyalinya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah organisasi tingkat dunia yang sengaja dibentuk untuk menegakkan kedamaian di atas planet bumi ini, cuma bisa menghimbau –si biadab–
Bebas Lenggang Kangkung
Bahwa serangan –sang pembantai–
Bukan Konflik Agama ?
Ini konflik agama ! Sudah jelas ! Lantas kenapa harus dicoba dinetral-netralkan sehingga terkesan perang Israel VS Palestina tak lebih dari sekedar “rebutan tanah”. Teologi Yahudi menyebutkan bahwa kaum Yahudi ialah the choosen people, orang-orang pilihan Tuhan, yang sudah ditakdirkan untuk menduduki the promised land, tanah yang dijanjikan Tuhan, yakni bumi Palestina. Gerakan Zionisme yang dimotori Theodore Herzl pada tahun 1917, setidaknya bernafaskan pemahaman tersebut bahwa bukit Sion ialah tempat yang Yahweh janjikan untuk kejayaan umat Yahudi. Demikian juga dengan umat Islam, Al-Quran secara vulgar menyebutkan bahwa kaum Yahudi tidak akan henti-hentinya memerangi kaum muslimin. Inilah perang antar agama tersebut ! Perang akan berakhir ketika satu kaum, entah Yahudi atau Islam, mutlak mengalahkan kaum yang lain.
Hamas Ngos-ngosan
Meskipun merupakan bagian dari warga Palestina, Hamas yang notabene penguasa di wilayah
Kirim Senjata, Bukan Sukarelawan !
CALON PEMIMPIN KITA
Semakin dekat ke era pemilihan umum, semakin santer isu siapa calon presiden dan wakil presiden dibicarakan. Dari pojok taman kampus – tempat kumpulnya para mahasiswa aktivis demo – sampai warung kopi – tempat nongkrongnya abang-abang supir angkot – semuanya ribut memprediksi siapa saja tokoh yang akan maju ke arena pemilihan. Dari remaja putri yang sedang di-creambath di salon-salon mahal sampai ibu-ibu arisan PKK yang sedang belajar membuat prakarya, semuanya heboh membincangkan petaka macam apa yang akan terjadi di Indonesia jika si “anu” atau si “itu” yang terpilih.
Ketika kita bicara soal siapa calon presiden dan wakil presiden yang tepat. Perkara mengenai karakter apa saja yang mesti dimiliki calon pemimpin tersebut demi membawa kemajuan bagi bangsa, tidak bisa dinomorduakan. Tidak semua orang pantas duduk di kursi pimpinan. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai sifat-sifat karakteristik tertentu pula, yang bisa jadi pemimpin. Bila ada orang yang tidak memenuhi kriteria sebagai pemimpin, lalu memaksakan diri maju ke pemilihan dan (celakanya) dia menang. Innalillahi, tak terbayang akan seperti apa rusaknya bangsa ini ia buat. Bangsa
Apa saja karakteristik yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut ?
Yang pertama, pemimpin itu haruslah seorang yang visioner. Dia menentukan arah dan tujuan yang mesti dicapai bangsa ini, kemudian merancang langkah-langkah nyata demi tercapai tujuan tersebut. Pandangannya jauh menerawang ke depan, kalkulasinya akurat dalam memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Program yang dia rencanakan dan laksanakan ialah program yang berkesinambungan, bila terus digulirkan maka akan berbuah manis di masa yang akan datang. Tak usah jauh-jauh mencari contoh yang pas, lihat saja sang “Bapak Pembangunan”, H.M Soeharto. Dicanangkannya Repelita pada masa pemerintahan beliau, menunjukkan bahwa sedikit banyak tokoh yang sangat kontroversial ini memiliki visi yang jelas bagi bangsa
Yang kedua, pemimpin itu harus punya prinsip atau ideologi yang pasti. Ia harus berani memposisikan dirinya, ada di titik ekstrim mana dia berada, apakah komunis, sosialis, islamis, sekuleris, marhaenis, liberalis, dan lain-lain. Prinsip yang ia pegang teguh akan menentukan arah kebijakannya baik ke dalam ataupun ke luar negeri. Cermatilah Bung Karno yang teguh dengan aliran ciptaannya sendiri yakni marhaenisme yang agak-agak berbau sosialisme. Rakyat memang melarat, tapi sedikit demi sedikit dibawa ke jalan yang lebih baik. Dengan cepat, negara semuda dan sekecil
Yang ketiga, pemimpin itu ialah seorang yang efektif dan efisien dalam bekerja. Meskipun situasi dan kondisi tidak mendukung, ia tetap dapat mempertahankan kinerjanya di level tertinggi. Cepat dan tepat dalam penyelesaian masalah, tidak ngaret dan gerasak-gerusuk tak keruan. Orang yang cocok dijadikan teladan dalam hal ini ialah BJ. Habibie. Si kecil yang cerdas, gesit dan tangkas, bagai si kancil yang banyak akalnya. Kurang lebih tiga bulan saja dia memegang jabatan presiden, situasi negara masih chaos akibat peralihan mendadak, namun Habibie seperti yang tidak ambil pusing. Di bawah tekanan agar ia ikut mundur besama Pak Harto dari istana, ia sempat menstabilkan perekonomian negara dengan menurunkan nilai dollar berpoin-poin. Salut, itu kata yang pantas disandangkan pada beliau.
Yang keempat, pemimpin itu harus memiliki dukungan yang kuat dari rakyatnya. Bahagialah orang-orang seperti Mao Tse Tung, Fidel Castro, Hugo Chavez, yang begitu mendapat dukungan mutlak dari segenap rakyatnya. Apalah artinya seorang pemimpin tanpa dukungan rakyatnya. Bukan lagi sayur tanpa garam, tapi bagai bangunan tak bertiang, jika sampai seorang pemimpin tidak memperoleh restu dari rakyat. Pembangunan dan kemajuan yang masif serta progresif ditentukan oleh sejauh mana rakyat memiliki loyalitas terhadap pemimpinya. China tak akan setangguh sekarang bila rakyatnya tidak memuja Mao Tse Tung sedemikian rupa, Kuba kemungkinan besar sudah musnah sedari dulu bila rakyatnya tidak men-support Fidel Castro habis-habisan, Hugo Chavez tak akan bisa membawa Venezuela ke arah kemajuan bila ia tidak dielu-elukan rakyatnya. Tentu saja, diperlukan keahlian khusus dari seorang pemimpin untuk dapat memobilisasi seluruh rakyat.
Last but not least, seorang pemimpin wajib memiliki spiritual awareness (kesadaran spiritual) yang sangat tinggi. Seorang pemimpin harus yakin benar bahwa segala perbuatannya selama hidup di alam fana ini, pasti akan diperhitungkan dan ada ganjarannya di alam baka kelak. Hukum manusia bisa diotak-atik, dimanipulasi, dihindari, akan tetapi hukum Tuhan ialah mutlak adanya, tak dapat dielakkan sama sekali. Kesadaran spiritual inilah yang akan mencegah seorang pemimpin untuk bertindak kriminal selama ia memegang tampuk kekuasaan. Dengan kesadaran spiritual yang tinggi, khalifah kedua, Umar ibn Khattab sampai tak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi karena takut tergolong tindak korupsi. Apa yang negara beri kepadanya benar-benar hanya ia gunakan untuk kepentingan negara karena itu merupakan amanah rakyat. Andaikata setiap pemimpin di negara kita punya kesadaran spiritual seperti Umar, pasti KPK akan bubar dengan sendirinya.
KETIKA WANITA………
Ketika wanita tumbuh menjadi insan remaja, jadilah ia primadona di keluarga. Perhatian orang tua hampir 90 persen tertuju pada lekuk tubuh anaknya yang mulai membentuk, dadanya yang mulai mekar, roman wajahnya yang semakin jelas kecantikannya, kelancaran siklus darah haid-nya, gairah nafsunya yang malu-malu kucing dan tentu saja pada keaslian virginitas-nya yang tak ternilai. Sang ibu sedaya upaya membungkus tubuh si gadis dengan pakaian yang menutup aurat agar terjaga kehormatan dari cap-cap jelek masyarakat. Lirikan sadis sang ayah membuat gemetar nyali setiap pemuda yang mendekati anak gadisnya agar terbebas anaknya itu dari lirikan, jamahan, kecupan dan tusukan birahi pria tak bertanggung jawab. Begitu tinggi perlindungan orang tua, melebihi tawaran perlindungan dari instansi asuransi manapun.
Ketika wanita hendak menyeleksi pejantan, kuasa dunia seolah ada di tangannya. Pontang-panting para pria berjuang demi sebuah kata “iya”, tanda diterimanya cinta oleh sang idola. Jutaan sanjungan, bujuk rayu ditelan seorang wanita. Ratusan tangkai mawar, cokelat-cokelat mahal made in Swiss, ditampung seorang wanita. Tak ketinggalan, berloyang-loyang martabak, diberikan kepada keluarganya sebagai “pelicin” mulusnya apel malam minggu. Namun apa daya kaum adam ketika kata “tidak” justru yang keluar dari mulut manis sang pujaan hati. Serasa jungkir baliklah alam dunia bagi si adam yang ditolak. Sebagian berhasil bangkit dari jurang kepedihan, sedangkan sebagian lagi sampai nekad makan racun tikus dua kardus. Benar-benar raja sang wanita itu, ia memegang wewenang mutlak untuk menerima atau menampik.
Ketika wanita terjun berkarir, “undang-undang” spesial di perusahaan melindungi dirinya. Berbagai perusahaan dibuat repot, karena wajib menyusun dan menerapkan peraturan-peraturan khusus bagi para wanita. Agar tidak ada lagi direktur hidung belang yang pura-pura tak sengaja mencolek pantat bahenol sekretarisnya. Agar tak ada lagi karyawan mata keranjang yang penasaran mengintip ke dalam rok mini teman kerja wanitanya. Agar tak ditemukan lagi wanita-wanita berperut kembung karena sedang mengandung masih tetap bekerja, padahal dokter sudah sarankan untuk ambil cuti. Kalau perusahaan mau selamat citranya dari cercaan LSM dan tekanan pemerintah, mau tak mau ia harus buat “undang-undang” khusus wanita tersebut.
Ketika wanita naik pelaminan, pihak kepolisian sudah siap mem-backing dengan penjagaan khususnya. Polisi dengan perangkat undang-undang KDRT-nya, siap siaga menjaga keamanan sang istri dari perbuatan semena-mena suaminya. Sekarang suami tak boleh asal main tempeleng, sekali si istri sakit hati dengan perilaku tersebut, bisa-bisa suami meringkuk di dalam bui. Bahkan suami tak boleh sembarang minta jatah untuk “belah
Ketika wanita teriak lantang meminta persamaan hak, berbagai pujian dan penghargaan ia terima, walau pemikirannya itu sangat kontroversial. Di Amerika
Ketika wanita berperan sebagai ibu di dalam sebuah keluarga, kehadirannya sungguh tak bisa kita remehkan sedikitpun. Apalah artinya seorang bapak tanpa ibu, meski dia menyandang gelar sebagai kepala rumah tangga. Ibu sebetulnya menjabat sebagai komandan rumah tangga. Tanpa pengaturan ibu, gaji bapak sebagai sumber nafkah bisa amburadul pemakaiannya. Tanpa kesabaran ibu, kenakalan anak-anak bisa menjadi tak terkontrol. Tanpa kasih sayang ibu, bayi-bayi bisa tumbuh menjadi orang blo’on dan lemah fisik karena terus dicekoki susu sapi formula. Tanpa perhatian ibu, rumah bisa berantakan bagai kapal pecah. Tanpa perawatan ibu, suami yang sedang sakit bisa berbulan-bulan baru sembuh. Tanpa pengawasan ibu, anak-anak bisa jadi berandalan di jalanan. Tanpa pendidikan ibu, anak-anak bisa jadi orang yang tidak tahu berterima kasih bahkan pada orang tuanya sendiri ketika besar nanti.
Ketika kalender menunjukkan tanggal 22 Desember, maka saya (selaku makhluk berjenis lelaki) mengucapkan; “Selamat hari ibu kepada semua wanita pada umumnya dan kaum ibu khususnya”. Satu lagi bukti bahwa wanita selalu mendapat tempat VIP di segala segi, sampai salah satu tanggal di akhir penghujung tahunpun dijadikan hari khusus untuk “merayakan” mereka. Bahkan sampai dalam komposisi berdoa, Nabi Saw pernah bersabda bahwa tiga kali doakan dulu ibu, baru yang terakhir sekali buat ayah. Sungguh spesial bukan ? Wanita dispesialkan bukan karena apa-apa, ia memang spesial secara natural. Kodrat dari Yang Maha Kuasa. Tak terbantahkan dan tak dapat dipungkiri.
TIMNAS SINGAPURA DAN SEPATU AL-ZAIDI
JANGAN LEBAY DONG AH !
Segala hal yang terjadi di Amerika Serikat (AS), hampir semuanya menular pula ke seluruh pelosok bumi, tak ketinggalan
Salah satu perkara yang sekarang sedang rame di AS yang kemudian negara lain jadi ikut-ikutan heboh juga ialah terpilihnya Barrack Hussein Obama menjadi presiden, menggantikan George Walker Bush. Dan kehebohan itu terjadi juga di
Media
Obama disebut-sebut mempunyai kedekatan emosional dengan bangsa
Apa-apaan ini ? Apanya yang dekat secara emosional ? Statement kedekatan emosional itu, menurut hemat saya sudah terlalu berlebihan. Bila dalam arti; “Obama dekat secara emosional dengan bapak tirinya yang notabene orang
Terkait mudanya usia Obama yang masih sekitar 40 tahunan, isu agar calon presiden kita untuk 2009 nanti harus dari golongan muda (di bawah 50 tahun) juga meningkat. Latah sekali bangsa kita ini bukan ?
Parpol yang mencap diri sebagai partai-nya kalangan muda (apalagi usia partai-nya pun masih muda) tampil menjadi “kompornya”. Sedangkan parpol yang sedari awal sudah punya calon pasti dan sayangnya si calon itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kegerahan dikompori partai yang masih “bau kencur”. Padahal, kalau dipikir-pikir, mau masih berondong atau sudah tuir sekalipun, presiden itu
Di ranah pergerakan aktivis Islam, lagi-lagi statement kedekatan emosional muncul. Kali ini Obama dibilang dekat secara emosional dengan kalangan muslim. Why ? Sebab bapak kandungnya Obama ialah seorang
Bahwa kebijakan AS terhadap umat muslim sering merugikan dan sinis, tidak dapat dipungkiri. Namun berharap kalau Obama dapat membawa nasib baik bagi masyarakat muslim – apalagi hanya karena bapaknya Islam itu – jelas imposibble. Silakan anda telusuri, justru selama kampanye, Obama selalu menolak undangan dari para tokoh muslim setempat untuk berdialog. Giliran ke kaum Yahudi (yang sering disebut sebagai musuh laten umat Islam), ya ampun, disuruh cium kaki pun tampaknya dia mau. Memang McCain pun sama halnya demikian mengenai kedekatannya dengan kaum Yahudi. Karena keberadaan dan kepentingan kalangan Yahudi di AS, memang sangat berpengaruh. So, soal bagaimana hubungan Amerika-dunia Muslim ke depannya di bawah kepemimpinan Obama, kita tinggal wait and see saja.
Apa artinya semua ini ?
Ikut-ikutan heboh dengan pilpres AS yang mengantar Obama memegang tampuk kekuasaan sih wajar-wajar saja. Amerika gitu loh ! Jangankan soal pilih memilih presiden, di
Jadi harus bagaimana kita ini ?
Seperti yang anak gaul zaman sekarang sering bilang; “Jangan lebay dong ah !” Atau jangan-jangan lebay (belebihan) itu memang karakter khas bangsa kita ? Ah tak tahulah aku.