Showing posts with label Sosial-Politik. Show all posts
Showing posts with label Sosial-Politik. Show all posts

Friday, August 20, 2010

APA YANG PATUT DIBANGGAKAN DARIMU, IBU PERTIWI ?

Tidak setiap hari semangat nasionalisme kita membuncah dan hadir mewarnai rutinitas sehari-hari. Namun ada satu momen yang pada saat itu jiwa cinta tanah air kita sama-sama terpanggil. Saat itu ialah pada tanggal 17 Agustus. Dipikir lebih dalam, agak keterlaluan memang karena rasa nasionalisme kita hanya keluar sekali setahun. Tapi itu lebih baik, dari pada tidak pernah sama sekali. Di dalam nasionalisme terkandung unsur kebanggaan; “Bangga menjadi rakyat Indonesia”. Theory of reasoned action di dalam ranah psikologi mengatakan bahwa tidak ada satupun tindakan manusia – baik itu secara mental (berpikir, memiliki perasaan tertentu) ataupun secara fisik (tindakan nyata) – yang benar-benar volunteer atau muncul serta merta begitu saja. Setiap tindakan pasti ada ada reason-nya. Oleh karenanya ketika kita merasa bangga menjadi bangsa Indonesia, semestinya kita punya alasan mengapa kita bangga akan negeri tercinta ini. Singkat kata, kita harus bisa menjawab pertanyaan; “Bangga karena apa ?”

Sunday, January 10, 2010

MERENUNGI KEMACETAN


Banyak pakar memprediksikan bahwa pada titik puncaknya nanti, kemacetan jalan raya akan sampai di depan pintu-pintu rumah kita. Artinya, begitu kita mengeluarkan kendaraan dari garasi, kita langsung terjerumus ke dalam rangkaian panjang antrian kendaraan. Terdengar lebay, namun ramalan ini didasarkan para pengamat kepada fakta tingkat pertumbuhan kendaraan yang sudah seperti marmot beranak. Agak lebih pasti terjadi dari pada perkiraan kiamat pada tahun 2012.

Dalam rangka mengantisipasi terjadinya ramalan mengerikan itu, beberapa tahun lalu Pemprov DKI melakukan studi banding ke Bogotta, Kolombia. Pulangnya, mereka membawa oleh-oleh busway dan monorail. Kota besar lain yang memiliki kekhawatiran sama akan bahaya kemacetan, terpancing ikut-ikutan. Alhasil, meskipun tidak sama persis, di Yogyakarta kini telah beroperasi TransJogja. Belakangan, Bandung menerjemahkan busway-nya Jakarta itu ke dalam konsep tidak keruan yang bernama Trans Metro Bandung (TMB). Adapun ide monorail dikembangkan menjadi kereta api subway, namun karena setelah dipikir-pikir agak mustahil, beralihlah lirikan Pemkot ke moda transportasi model mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT).

Reorientasi masyarakat kepada penggunaan transportasi umum, dipandang merupakan cara paling efektif untuk mengurangi dan mencegah kemacetan agar tidak bertambah kronis. Di berbagai media massa, masalah kualitas transportasi umum yang tak memuaskan sering juga dikambinghitamkan sebagai penyebab kenapa masyarakat lebih memilih membeli dan menggunakan kendaraan pribadi yang ujung-ujungnya berbuah kemacetan. Asumsi teoritiknya simple saja; jika masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi umum, maka otomatis kendaraan-kendaraan pribadi mereka takkan terpakai, niat untuk membeli kendaraan merendah dan dengan demikian berarti jumlah kendaraan di jalanan akan berkurang.

Mengusahakan agar masyarakat lebih menyukai bepergian dengan transportasi umum, memang salah satu upaya yang mesti ditempuh dengan serius. Namun sebetulnya, usaha ini belum menyentuh area inti dari permasalahan kemacetan. Singkat kata, baru di kulitnya saja. Jika kita mengorek sampai mengoyak dagingnya, maka akan kita temukan bahwa core problem kemacetan ini ada pada soal budaya konsumsi masyakarat zaman sekarang.

Di dunia bisnis modern, gerak perusahaan bukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat lagi, tetapi menjurus ke arah menciptakan kebutuhan di masyarakat. Mengenai hal tersebut, two thumbs up untuk industri-industri otomotif yang berhasil menciptakan kebutuhan baru di masyarakat, yakni kebutuhan primer untuk memiliki mobil dan motor. Semua lapisan masyarakat; kere-kaya, tua-berondong, cowok-cewek, tamatan SD-jebolan universitas, semuanya dicekoki paham mobil-isme serta motor-isme secara merata. Pada tahapan selanjutnya, pemenuhan kebutuhan inipun bergerak dan berubah ke dalam bentuk baru yang disebut gaya hidup. Dengan kata lain, kini masyarakat cenderung ingin memiliki kendaraan bukan karena asas kebutuhan lagi tapi lebih karena trend-nya sekarang sedang seperti itu. Bila dianalogikan, fenomena kepemilikan kendaraan sudah sama seperti kasus kepemilikan HP (hand phone).

Dikarenakan persoalan kepemilikan kendaraan pribadi ini sudah mencapai taraf life style, maka solusi mengurangi kemacetan dengan peningkatan kualitas angkutan umum atau pembuatan angkutan umum model baru, tidak akan memecahkan permasalahan. Peribahasa mengatakan; anjing menggonggong, kafilah berlalu. Pada akhirnya yang menaiki angkutan umum hanyalah orang-orang yang kebetulan sampai saat itu belum punya kendaraan pribadi atau mungkin kendaraannya sedang ngadat. Sementara mereka yang sudah punya mobil-motor pribadi tetap bertahan dengan kendaraan mereka masing-masing, di samping jumlah golongan ini juga akan cenderung terus bertambah. Bukti kongkritnya silakan saja lihat sejauh mana dampak busway terhadap menurunnya tingkat kemacetan di Jakarta; Apakah dampaknya signifikan ? Anda, sebagaimana halnya saya mungkin akan geleng-geleng kepala. Empuknya tempat duduk, dinginnya udara ber-AC dan jalur yang dijamin bebas macet, ternyata belum mampu menarik orang untuk beralih ke busway. Adapun di sisi lain, kendaraan – terutama motor – semakin banyak menyemut di jalanan.

Keputusan Kecil yang Tiran
Di sisi lain, gaya hidup berkendaraan ini, selain menumpulkan keefektifan transportasi umum dalam mengurangi kemacetan, ia juga mencerminkan betapa semakin hari manusia ternyata semakin arogan dan egosentris. Rasa kebersamaan dan kepedulian berkurang secara drastis. Hirsch menyebutnya sebagai “the tyranny of small decisions”. Pertimbangan bahwa jika saya membeli mobil atau motor, maka akan berdampak pada kemacetan atau kerusakan lingkungan menjadi hilang, yang terpenting ialah saya bisa punya kendaraan.
Dalam tataran sederhana arogansi itu terlihat ketika seorang anak remaja mengganti knalpot motornya dengan knalpot racing, yang menurut dia keren tapi bikin orang ingin ngelempar bata padanya. “Kejam benar kalian, sekalian saja istri saya kalian rampas”, pekik eks-Bupati Pelalawan, Azmum Jafar, saat menolak permintaan tim KPK agar beliau sudi menandatangani berita acara penyitaan rekening-rekening miliknya yang diduga diisi dari uang haram hasil korupsi. Nah, kalau yang barusan ialah contoh perilaku egosentris pada tataran yang lebih tinggi lagi.

Semangat Untuk Pulih
Kembali ke soal kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, harus diberlakukan hukum qishash; urusan mata dibayar mata, hutang tangan dibayar tangan, hilang nyawa diganti nyawa. Maka permasalahan kemacetan yang lebih karena gaya hidup dalam berkendaraanpun harus dipecahkan melalui langkah-langkah yang langsung menusuk ke wilayah ini. Apa bentuknya ?
Tentu saja mari kita mulai dari hal yang paling kecil, yaitu dengan dimulai dari diri kita sendiri dulu. Sebelum kita mengambil sebuah keputusan kecil namun tiran, dengan cara membeli kendaraan, mari kita tanya diri kita sendiri; Apakah saya sudah betul-betul butuh beli mobil/motor ? Sejauh apa saya membutuhkan kendaraan ?
Mari kita sama-sama belajar adil. Dalam konsep Islam, adil ialah “wad’u syaiin a’la mahalihi”, atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Nasional RI berarti “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Makna sederhananya; kalau memang butuh ya belilah kendaraan, tapi kalau memang tak perlu atau hanya sekadar “panas” oleh trend saja maka janganlah ia dibuat seolah-olah butuh.

Terlihat mudah namun sebetulnya memerlukan usaha keras untuk bisa mencapai taraf itu. Sejujurnya, penulis sendiripun ragu bisa se-adil tersebut. Salah satu kendalanya ialah toleransi kita yang amat tinggi terhadap kelaziman zaman. Maksudnya, sering kali kita memandang sesuatu yang tak perlu itu tetap harus dilaksanakan hanya karena alasan; memang zamannya sudah berubah, memang tuntutannya sudah berbeda, toh semua orang juga begitu.
Bahanyanya toleransi yang semakin tinggi ini rupanya dapat menular pada hal-hal lain yang menurut kaca mata saya lebih gawat dari masalah kemacetan. Anak si anu married by accident, kita bergumam; “Ah wajar, memang zamannya”. Si B dan si C cerai, padahal baru setahun menikah, kita berkomentar; “Ah biasa, memang zamannya”. Pejabat D korupsi uang rakyat triliunan rupiah, kita menanggapi; “Ah maklum, sudah zamannya”.

Semakin banyak toleransi, semakin kita terbiasa menganggap sesuatu yang urgent sebagai collateral damage semata. Kerusakan sampingan, kalau kata orang kedokteran; side effect. Ya, kita pun sadar bahwa efek samping selalu ada. Kitapun sepertinya setuju dengan Pincus (1972) yang menggambarkan soal efek samping ini melalui pernyataan puitis; “there is no growth without pain and conflict”. Kemacetan dan kerusakan lingkungan ialah dampak ikutan dari pertumbuhan masyarakat yang semakin maju dan modern. Namun tentu saja, kesadaran ke arah sana tidak berarti harus melumpuhkan semangat kita untuk memulihkan pain dan conflict yang timbul seiring bergulirnya roda waktu. Pain yang dirasakan alam akibat asap-asap beracun kendaraan, masih bisa kita perbaiki dengan usaha-usaha pelestarian lingkungan. Conflict sosial yang timbul karena stress kemacetan, masih bisa kita redam dengan perilaku konsumsi yang bijak. Dan mudah-mudahan semangat memulihkan kondisi yang rusak ini tidak hanya di soal kemacetan saja, tetapi juga merambah pada aspek-aspek lain yang sudah masuk stadium genting.

Monday, November 9, 2009

HAMAS YANG SERBA SALAH

Mungkin anda juga menyaksikan tayangan acara “Debat” pada hari rabu malam lalu (14/1) di stasiun TV One. Malam itu, tema yang diusung yakni mengenai; “Apakah Obama mampu memberikan pencerahan terhadap nasib Bangsa Palestina ?”. Empat pengamat timur tengah dari dua kubu yang saling berseberangan bertemu. Dua dari yang pro-Palestina sekaligus pesimis dengan harapan bahwa Obama mampu membawa angin segar bagi rakyat Palestina, sedangkan dua lagi merupakan kubu pro-Amerika yang tampak sangat yakin dan optimistis kalau Obama akan bisa mengadakan perubahan besar.

Hal yang menarik ialah pendapat yang diutarakan oleh seorang pengamat dari Moslem Moderat Society pada sesi kedua acara tersebut. Ya, dari nama organisasinya saja kita langsung ngeh kalau si doi pasti seorang fans berat ide-ide apapun yang made in United States. Dengan nada yakin dia mengatakan; “Perang Gaza sekarang ini sebetulnya salah Hamas sendiri yang meluncurkan roket-roket dari wilayah pemukiman, pantas saja kalau Israel kemudian memborbardir pemukiman-pemukiman penduduk, Hamas telah mengorbankan nyawa penduduk Palestina”. Tidak sedetail itu memang, namun kurang lebih bunyi pernyataannya seperti demikian.

Para pendukung dari kubu lawan sontak mencemooh dengan teriakan; “Huuuu…” demi mendengar argumen “aneh bin ajaib” tersebut. Sang lawan debat (Tiar Anwar Bahtiar, penulis buku; Kenapa Hamas Dibenci Amerika), tersenyum lebar sampai terlihat putih dan besar-besar giginya. Sedangkan si pelontar pendapat –yang saya (penulis) lupa namanya– datar nan dingin roman mukanya, menunjukkan keseriusan dengan apa yang baru ia ucapkan.

Mmmm… lagi-lagi Hamas yang dikambinghitamkan. Lalu kapan giliran Yahudi Israel yang disalahkan ? Setiap agresi yang dilancarkan Israel, betapapun kejam dan biadabnya itu, tetap Hamas yang jadi sorotan sebagai biang kerok. Ujung-ujungnya stempel teroris dicapkan pada partai ini, sementara Israel yang benar-benar terbukti telah melakukan kejahatan perang dan pelanggaran HAM bebas-bebas saja dari label “miring” apapun. Pernah anda dengar ada negara yang menyebut Israel sebagai the world’s real terrorist di sidang PBB ? Kalau Hamas sih jangan ditanya, sudah sering partai ini diejek-ejek semacam itu, malahan tidak hanya di sidang PBB.

Yah kasihan Hamas, malang benar nasibnya. Mau bela rakyatnya agar mendapatkan kembali tanah yang direbut si Zionis, eh dibilang biang keladi peperangan. Mau jingkrak-jingkrak di kursi pemerintahan setelah menang pemilu, eh diancam Eropa (dan Amerika tentunya) kalau kucuran bantuan akan dihentikan. Mau balas aksi brutal Israel dengan roketnya yang segede upil, eh langsung dituduh sebagai teroris dan pengancam kedamaian dunia. Mau berunding secara damai, eh malah digiring agar wilayah Palestina terus menyempit sesuai permintaan Israel. Serba salah. Kalau kata peribahasa; bagai makan buah sigamalama eh maksudnya simalakama. Kalau kata Warkop DKI; maju kena, mundur kena.

Padahal, kalau mau lihat secara objektif, tanpa Hamas mungkin Palestina sudah innalillahi sejak lama. Partai Fatah terlalu lembek, terlalu enteng dalam meneken surat perjanjian di setiap perundingan. Walhasil, silakan lihat peta wilayah Palestina sekarang yang kian menciut. Pernah anda dengar Partai Fatah menurunkan pasukannya dalam memerangi Israel ? Kalau Hamas ndak usah ditanya, bersama rakyat dia maju ke medan perang walau di sana terjadi ketakseimbangan yang amat sangat; ketapel lawan tank baja, semplitan lawan F-16, batu lawan rudal balistik, petasan lawan bom dime, Suparmin lawan Superman.

Namun apa daya, Yahudi lewat bonekanya (baca : Amerika) kini berkuasa penuh atas dunia ini. Warga dunia oke-oke saja, mufakat kalau Hamas yang salah, yang jadi pemancing amarah Israel, yang menjadi sabab musabab terjadinya tragedi perang berdarah. Warga dunia ogah kasih bantuan ke Hamas karena nanti takut dituding menopang atau mensokong organisasi teroris. Warga dunia justru mencoba meredam Hamas lewat perundingan-perundingan, bak seorang tua yang menasehati seorang anak kecil yang bandel; “Cup.. cup… cup… anak manis jangan bandel ya, nanti kalo bandel dikemplang ama Om Israel lho ! Udah turutin aja apa maunya Om Israel ya ! Sabar aja ya nak… kan kata bu guru juga kalo orang sabar itu… idungnya lebar….”

Kebenaran selalu muncul dalam berbagai cara, bagaimanapun kebohongan mencoba menutupinya. Kemenangan Hamas dalam pemilu beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa rakyat Palestina telah menyadari, siapa pahlawan dan yang mana pengecut. Di tengah gencatan senjata semu (karena Israel masih tetap menyerang meski dengan jumlah kecil) sekarang ini, warga Gaza tetap mendukung perlawanan Hamas. Bahkan menurut pemberitaan Al-Jazeera, penduduk Gaza menilai bahwa Hamas ialah pemenang dari perang yang terhenti sejenak ini.

Isu perundingan damai kembali bergulir. Ismael Haneeya, petinggi Hamas, menyatakan bahwa tangan Hamas terbuka lebar bagi perundingan tersebut. Asal saja pihak Israel mau menerima klausul tuntutan Hamas tanpa syarat secara mutlak. Di antara tuntutan-tuntutan itu ialah hengkangnya pasukan Israel sepenuhnya dari Gaza dan wilayah-wilayah perbatasannya serta memberikan kompensasi yang setimpal bagi korban penduduk Gaza.

Mari kita dukung dan doakan perjuangan Hamas pada perundingan itu nanti. Karena seperti pembukaan UUD 1945 mengatakan; “Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Merdeka !

BEDEBAH KAU ISRAEL !

Holocaust

Sampai hari ke-19 (Kamis, 15 Januari), hujan bom fosfor putih dan bom curah, rentetan peluru senapan otomatis dan dentuman meriam tank baja, dari –yang terkutuk– Israel telah mengakibatkan 1.000 warga tak berdosa Palestina kehilangan nyawa. Sedangkan sekitar 4.500 orang lainnya luka-luka berat. Termasuk ke dalam korban tewas serta luka ialah mereka kaum yang lemah; wanita dan anak-anak. Persediaan bahan bakar untuk menyalakan generator rumah sakit yang terus menipis dan habisnya stok obat bius, semakin menambah berat derita warga Palestina di jalur Gaza. Belum lagi pasokan bahan pangan yang tidak terjamin, membuat kesengsaraan penduduk Gaza semakin berlipat-lipat. Inilah Holocaust yang sesungguhnya, rakyat Palestina dicoba untuk dimusnahkan dari muka bumi oleh –yang terlaknat– Yahudi Israel. Dari siang sampai malam, pagi sampai sore, setiap jam, menit dan detik, tak ada waktu luang barang sedikitpun bagi rakyat Gaza untuk sekedar menghirup udara perdamaian.

Dunia Yang Impoten

Sementara itu, reaksi warga dunia baru bisa sebatas mengecam saja. Mesir yang dulu berani menjadi pemimpin Liga Arab dalam Perang Arab-Israel sekitar 30 tahunan yang lalu, kini ciut nyalinya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah organisasi tingkat dunia yang sengaja dibentuk untuk menegakkan kedamaian di atas planet bumi ini, cuma bisa menghimbau –si biadab– Israel untuk menghentikan serangan. Himbauan yang percuma, karena sudah pasti –si congkak– Zionis Israel tidak akan mendengarnya. Para presiden dari berbagai negara, semuanya hanya bisa menghujat tindakan –si bajingan– Israel tanpa mau terlibat langsung dalam upaya menghentikan laju – si keparat– Israel, karena takut digonggongi anjing setianya negara Yahudi ini, yang tak lain dan tak bukan ialah Amerika Serikat (AS). Warga dunia mendadak jadi makhluk-makhluk impoten, punya “pistol’ tapi tidak bisa nembak, jangankan memuntahkan peluru, untuk tegak sombong mengusungkan dadapun ia tak berani.

Bebas Lenggang Kangkung

Bahwa serangan –sang pembantai– Israel ialah suatu tindakan kejahatan kemanusiaan dan internasional, ini tak terbantahkan. Namun siapa yang berani menindak hukum para petinggi negara ini ? Mahkamah Kejahatan Internasional (MKI) ? Oh tidak saudaraku. Dengan liciknya –sang penghancur– Israel tidak mengikuti Statua Roma yang mendasari pembentukan MKI. Jadi, Ehud Barak dan kawan-kawan tidak bisa diseret ke pengadilan macam ini. Apakah dengan cara pembentukan pengadilan ad hoc semacam ICTY (International Criminal Tribuner for Yugoslavia) dan ICTR (International Criminal Tribuner for Rwanda) ? Ah tidak juga kawanku. Pengadilan ICT-ICT itu harus didirikan berdasarkan resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB. Jangan lupa di DK PBB ada AS yang (pastinya) siap memveto resolusi sekaligus menyelamatkan –sang agresor– majikannya (baca : Israel) dari lubang jerat hukum ini. Kesimpulannya –sang pembunuh– Israel akan dengan santainya terus melanjutkan serangan sambil lenggang kangkung tak takut dihukum di pengadilan manapun.

Bukan Konflik Agama ?

Ini konflik agama ! Sudah jelas ! Lantas kenapa harus dicoba dinetral-netralkan sehingga terkesan perang Israel VS Palestina tak lebih dari sekedar “rebutan tanah”. Teologi Yahudi menyebutkan bahwa kaum Yahudi ialah the choosen people, orang-orang pilihan Tuhan, yang sudah ditakdirkan untuk menduduki the promised land, tanah yang dijanjikan Tuhan, yakni bumi Palestina. Gerakan Zionisme yang dimotori Theodore Herzl pada tahun 1917, setidaknya bernafaskan pemahaman tersebut bahwa bukit Sion ialah tempat yang Yahweh janjikan untuk kejayaan umat Yahudi. Demikian juga dengan umat Islam, Al-Quran secara vulgar menyebutkan bahwa kaum Yahudi tidak akan henti-hentinya memerangi kaum muslimin. Inilah perang antar agama tersebut ! Perang akan berakhir ketika satu kaum, entah Yahudi atau Islam, mutlak mengalahkan kaum yang lain.

Hamas Ngos-ngosan

Meskipun merupakan bagian dari warga Palestina, Hamas yang notabene penguasa di wilayah Gaza, bagai berjuang sendirian. Partai Fatah sebagai penguasa umum di Palestina dan juga oposisi Partai Hamas, seolah ingin “cuci tangan”, “bermain aman”, bahkan terkesan memanfaatkan momen serangan ini untuk merebut Gaza dari kepenguasaan Hamas. Alih-alih membantu saudara setanah air, sedikit banyak Fatah ikut-ikutan mengutuk Hamas sebagai biang keladi dari pembantaian brutal ini. Namun Hamas belum mau mengangkat bendera putih, bagi mereka inilah saat yang tepat untuk meraih kemenangan gemilang. Nampaknya, Hamas walaupun terkuras sampai ngos-ngosan, akan bertarung terus sampai titik darah penghabisan

Kirim Senjata, Bukan Sukarelawan !

Demo solidaritas menggaung di mana-mana. Di tanah air, beberapa ormas siap mengirimkan sukarelawan perang –yang entah kapan bisa berangkat– untuk membantu perjuangan rakyat Gaza. Pertanyaannya ialah efektifkah cara tersebut ? Bergunakah ilmu silat dan tenaga dalam yang sudah dilatih dengan keras di sini dalam menghalau bom curah-nya Israel ? Di sisi lain aksi penggalangan dana bantuanpun gencar dilaksanakan. Kembali kita bertanya, bermanfaatkah kiriman bantuan sandang, pangan dan obat-obatan tersebut ? Sudah alhamdulillah bantuan itu bisa masuk Gaza, toh sekalinya diterima juga tak lama kemudian bom-bom Israel kembali jatuh dan membunuh para warga. Jadi, bisa dikatakan hanya memperpanjang sedikit lebih lama nyawa mereka. Supaya afdhol untuk mengimbangi kiriman sukarelawan (kalau jadi) dan bantuan sandang-pangan-medis, perlu juga dikirim bantuan persenjataan, agar Hamas bisa membalas serangan Israel secara berimbang (lebih dahsyat malahan). Setuju ?

CALON PEMIMPIN KITA

Semakin dekat ke era pemilihan umum, semakin santer isu siapa calon presiden dan wakil presiden dibicarakan. Dari pojok taman kampus – tempat kumpulnya para mahasiswa aktivis demo – sampai warung kopi – tempat nongkrongnya abang-abang supir angkot – semuanya ribut memprediksi siapa saja tokoh yang akan maju ke arena pemilihan. Dari remaja putri yang sedang di-creambath di salon-salon mahal sampai ibu-ibu arisan PKK yang sedang belajar membuat prakarya, semuanya heboh membincangkan petaka macam apa yang akan terjadi di Indonesia jika si “anu” atau si “itu” yang terpilih.

Ketika kita bicara soal siapa calon presiden dan wakil presiden yang tepat. Perkara mengenai karakter apa saja yang mesti dimiliki calon pemimpin tersebut demi membawa kemajuan bagi bangsa, tidak bisa dinomorduakan. Tidak semua orang pantas duduk di kursi pimpinan. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai sifat-sifat karakteristik tertentu pula, yang bisa jadi pemimpin. Bila ada orang yang tidak memenuhi kriteria sebagai pemimpin, lalu memaksakan diri maju ke pemilihan dan (celakanya) dia menang. Innalillahi, tak terbayang akan seperti apa rusaknya bangsa ini ia buat. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang cemerlang, hanya jika dipimpin oleh seorang yang memang bermental pemimpin.

Apa saja karakteristik yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut ?

Yang pertama, pemimpin itu haruslah seorang yang visioner. Dia menentukan arah dan tujuan yang mesti dicapai bangsa ini, kemudian merancang langkah-langkah nyata demi tercapai tujuan tersebut. Pandangannya jauh menerawang ke depan, kalkulasinya akurat dalam memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Program yang dia rencanakan dan laksanakan ialah program yang berkesinambungan, bila terus digulirkan maka akan berbuah manis di masa yang akan datang. Tak usah jauh-jauh mencari contoh yang pas, lihat saja sang “Bapak Pembangunan”, H.M Soeharto. Dicanangkannya Repelita pada masa pemerintahan beliau, menunjukkan bahwa sedikit banyak tokoh yang sangat kontroversial ini memiliki visi yang jelas bagi bangsa Indonesia.

Yang kedua, pemimpin itu harus punya prinsip atau ideologi yang pasti. Ia harus berani memposisikan dirinya, ada di titik ekstrim mana dia berada, apakah komunis, sosialis, islamis, sekuleris, marhaenis, liberalis, dan lain-lain. Prinsip yang ia pegang teguh akan menentukan arah kebijakannya baik ke dalam ataupun ke luar negeri. Cermatilah Bung Karno yang teguh dengan aliran ciptaannya sendiri yakni marhaenisme yang agak-agak berbau sosialisme. Rakyat memang melarat, tapi sedikit demi sedikit dibawa ke jalan yang lebih baik. Dengan cepat, negara semuda dan sekecil Indonesia menjadi penggerak negara-negara kecil lainnya dalam menentang dominansi negara raksasa yang hobi menjajah. Pemimpin yang keras akan pendiriannya akan menjadi pemimpin yang tidak hanya disegani dan dihormati oleh bangsanya sendiri tetapi juga oleh pihak luar.

Yang ketiga, pemimpin itu ialah seorang yang efektif dan efisien dalam bekerja. Meskipun situasi dan kondisi tidak mendukung, ia tetap dapat mempertahankan kinerjanya di level tertinggi. Cepat dan tepat dalam penyelesaian masalah, tidak ngaret dan gerasak-gerusuk tak keruan. Orang yang cocok dijadikan teladan dalam hal ini ialah BJ. Habibie. Si kecil yang cerdas, gesit dan tangkas, bagai si kancil yang banyak akalnya. Kurang lebih tiga bulan saja dia memegang jabatan presiden, situasi negara masih chaos akibat peralihan mendadak, namun Habibie seperti yang tidak ambil pusing. Di bawah tekanan agar ia ikut mundur besama Pak Harto dari istana, ia sempat menstabilkan perekonomian negara dengan menurunkan nilai dollar berpoin-poin. Salut, itu kata yang pantas disandangkan pada beliau.

Yang keempat, pemimpin itu harus memiliki dukungan yang kuat dari rakyatnya. Bahagialah orang-orang seperti Mao Tse Tung, Fidel Castro, Hugo Chavez, yang begitu mendapat dukungan mutlak dari segenap rakyatnya. Apalah artinya seorang pemimpin tanpa dukungan rakyatnya. Bukan lagi sayur tanpa garam, tapi bagai bangunan tak bertiang, jika sampai seorang pemimpin tidak memperoleh restu dari rakyat. Pembangunan dan kemajuan yang masif serta progresif ditentukan oleh sejauh mana rakyat memiliki loyalitas terhadap pemimpinya. China tak akan setangguh sekarang bila rakyatnya tidak memuja Mao Tse Tung sedemikian rupa, Kuba kemungkinan besar sudah musnah sedari dulu bila rakyatnya tidak men-support Fidel Castro habis-habisan, Hugo Chavez tak akan bisa membawa Venezuela ke arah kemajuan bila ia tidak dielu-elukan rakyatnya. Tentu saja, diperlukan keahlian khusus dari seorang pemimpin untuk dapat memobilisasi seluruh rakyat.

Last but not least, seorang pemimpin wajib memiliki spiritual awareness (kesadaran spiritual) yang sangat tinggi. Seorang pemimpin harus yakin benar bahwa segala perbuatannya selama hidup di alam fana ini, pasti akan diperhitungkan dan ada ganjarannya di alam baka kelak. Hukum manusia bisa diotak-atik, dimanipulasi, dihindari, akan tetapi hukum Tuhan ialah mutlak adanya, tak dapat dielakkan sama sekali. Kesadaran spiritual inilah yang akan mencegah seorang pemimpin untuk bertindak kriminal selama ia memegang tampuk kekuasaan. Dengan kesadaran spiritual yang tinggi, khalifah kedua, Umar ibn Khattab sampai tak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi karena takut tergolong tindak korupsi. Apa yang negara beri kepadanya benar-benar hanya ia gunakan untuk kepentingan negara karena itu merupakan amanah rakyat. Andaikata setiap pemimpin di negara kita punya kesadaran spiritual seperti Umar, pasti KPK akan bubar dengan sendirinya.

Sekarang mari kita sama-sama melihat ke lingkungan nyata. Siapa calon presiden dan wakil presiden yang sekiranya telah memenuhi lima kriteria pemimpin tersebut ? SBY-kah ? Megawati ? Sutiyoso ? Prabowo ? Amien Rais ? Sultan Hamengkubuwono ? Ah, saya serahkan pada anda tentang penilaiannya.

KETIKA WANITA………

Ketika wanita tumbuh menjadi insan remaja, jadilah ia primadona di keluarga. Perhatian orang tua hampir 90 persen tertuju pada lekuk tubuh anaknya yang mulai membentuk, dadanya yang mulai mekar, roman wajahnya yang semakin jelas kecantikannya, kelancaran siklus darah haid-nya, gairah nafsunya yang malu-malu kucing dan tentu saja pada keaslian virginitas-nya yang tak ternilai. Sang ibu sedaya upaya membungkus tubuh si gadis dengan pakaian yang menutup aurat agar terjaga kehormatan dari cap-cap jelek masyarakat. Lirikan sadis sang ayah membuat gemetar nyali setiap pemuda yang mendekati anak gadisnya agar terbebas anaknya itu dari lirikan, jamahan, kecupan dan tusukan birahi pria tak bertanggung jawab. Begitu tinggi perlindungan orang tua, melebihi tawaran perlindungan dari instansi asuransi manapun.

Ketika wanita hendak menyeleksi pejantan, kuasa dunia seolah ada di tangannya. Pontang-panting para pria berjuang demi sebuah kata “iya”, tanda diterimanya cinta oleh sang idola. Jutaan sanjungan, bujuk rayu ditelan seorang wanita. Ratusan tangkai mawar, cokelat-cokelat mahal made in Swiss, ditampung seorang wanita. Tak ketinggalan, berloyang-loyang martabak, diberikan kepada keluarganya sebagai “pelicin” mulusnya apel malam minggu. Namun apa daya kaum adam ketika kata “tidak” justru yang keluar dari mulut manis sang pujaan hati. Serasa jungkir baliklah alam dunia bagi si adam yang ditolak. Sebagian berhasil bangkit dari jurang kepedihan, sedangkan sebagian lagi sampai nekad makan racun tikus dua kardus. Benar-benar raja sang wanita itu, ia memegang wewenang mutlak untuk menerima atau menampik.

Ketika wanita terjun berkarir, “undang-undang” spesial di perusahaan melindungi dirinya. Berbagai perusahaan dibuat repot, karena wajib menyusun dan menerapkan peraturan-peraturan khusus bagi para wanita. Agar tidak ada lagi direktur hidung belang yang pura-pura tak sengaja mencolek pantat bahenol sekretarisnya. Agar tak ada lagi karyawan mata keranjang yang penasaran mengintip ke dalam rok mini teman kerja wanitanya. Agar tak ditemukan lagi wanita-wanita berperut kembung karena sedang mengandung masih tetap bekerja, padahal dokter sudah sarankan untuk ambil cuti. Kalau perusahaan mau selamat citranya dari cercaan LSM dan tekanan pemerintah, mau tak mau ia harus buat “undang-undang” khusus wanita tersebut.

Ketika wanita naik pelaminan, pihak kepolisian sudah siap mem-backing dengan penjagaan khususnya. Polisi dengan perangkat undang-undang KDRT-nya, siap siaga menjaga keamanan sang istri dari perbuatan semena-mena suaminya. Sekarang suami tak boleh asal main tempeleng, sekali si istri sakit hati dengan perilaku tersebut, bisa-bisa suami meringkuk di dalam bui. Bahkan suami tak boleh sembarang minta jatah untuk “belah duren”. Jika istri bilang; “enggak mau”, jangan sekali-kali si suami memaksa. Sebab, bisa-bisa ia didera pasal marital rape di depan majelis pengadilan. Ya, marital rape, perkosaan dalam perkawinan. Lucu memang, ada istilah perkosaan tapi dalam suatu perkawinan. Padahal kita kan sama-sama tahu, “begituan” itu halal-halal saja malah wajib hukumnya kata Pak Ustadz, jika kedua insan telah terikat tali pernikahan. Tapi itulah wanita, untuk dirinya ada semacam keutamaan tersendiri yang diberikan.

Ketika wanita teriak lantang meminta persamaan hak, berbagai pujian dan penghargaan ia terima, walau pemikirannya itu sangat kontroversial. Di Amerika sana, Ameena Wadud, seorang muslimah liberalis, membuat sensasi luar biasa yaitu pelaksanaan sholat jumat yang dikhutbahi dan diimami langsung oleh dirinya. Bego-nya ada saja lelaki-lelaki yang mau dipimpin ritual sholat jumat oleh Ameena. Selain itu, sholat-nya itu sendiri diselenggarakan di sebuah gereja. Di saat jutaan umat muslim di seluruh dunia geleng-geleng kepala dengan aksi ekstrim tersebut, banyak media massa barat menyanjungnya sebagai pembaharu di dunia Islam. Di tanah air, Musdah Mulia menggemparkan ketenangan umat dengan usulan draft KHI-nya. Salah satu pasal yang ia usulkan ialah bolehnya wanita menikah tanpa didampingi saksi. Tak terbayang bagaimana jadinya kalau draft ini waktu itu diluluskan. Di luar itu, ia pun vokal dalam menyuarakan bahwa Islam juga memandang homoseksual sebagai satu kelumrahan, kealamiahan. Di tengah-tengah serangan umat yang terusik dengan pemikiran nyeleneh-nya itu, Musdah malah diberi penghargaan sebagai wanita terberani se-Asia Pasifik. Ya, dia memang berani, berani melanggar “pakem Tuhan” lebih tepatnya lagi.

Ketika wanita berperan sebagai ibu di dalam sebuah keluarga, kehadirannya sungguh tak bisa kita remehkan sedikitpun. Apalah artinya seorang bapak tanpa ibu, meski dia menyandang gelar sebagai kepala rumah tangga. Ibu sebetulnya menjabat sebagai komandan rumah tangga. Tanpa pengaturan ibu, gaji bapak sebagai sumber nafkah bisa amburadul pemakaiannya. Tanpa kesabaran ibu, kenakalan anak-anak bisa menjadi tak terkontrol. Tanpa kasih sayang ibu, bayi-bayi bisa tumbuh menjadi orang blo’on dan lemah fisik karena terus dicekoki susu sapi formula. Tanpa perhatian ibu, rumah bisa berantakan bagai kapal pecah. Tanpa perawatan ibu, suami yang sedang sakit bisa berbulan-bulan baru sembuh. Tanpa pengawasan ibu, anak-anak bisa jadi berandalan di jalanan. Tanpa pendidikan ibu, anak-anak bisa jadi orang yang tidak tahu berterima kasih bahkan pada orang tuanya sendiri ketika besar nanti.

Ketika kalender menunjukkan tanggal 22 Desember, maka saya (selaku makhluk berjenis lelaki) mengucapkan; “Selamat hari ibu kepada semua wanita pada umumnya dan kaum ibu khususnya”. Satu lagi bukti bahwa wanita selalu mendapat tempat VIP di segala segi, sampai salah satu tanggal di akhir penghujung tahunpun dijadikan hari khusus untuk “merayakan” mereka. Bahkan sampai dalam komposisi berdoa, Nabi Saw pernah bersabda bahwa tiga kali doakan dulu ibu, baru yang terakhir sekali buat ayah. Sungguh spesial bukan ? Wanita dispesialkan bukan karena apa-apa, ia memang spesial secara natural. Kodrat dari Yang Maha Kuasa. Tak terbantahkan dan tak dapat dipungkiri.

Sebelum menutup perbincangan, sekali saya ucapkan; “Selamat hari ibu”

TIMNAS SINGAPURA DAN SEPATU AL-ZAIDI

Selama dua pekan ini, rakyat Asia Tenggara dihibur oleh bergulirnya turnamen sepak bola Piala AFF. Turnamen yang dulu bernama Piala Tiger ini melibatkan seluruh negara sekawasan Asia Tenggara; dari yang masih balita seperti Timor Leste sampai yang sudah renta seperti Indonesia, dari yang fakir semisal Laos sampai Brunei yang bergelimang harta, dari yang besar oleh tangan asing seperti Singapura sampai Thailand yang belum pernah dipijak kaki penjajah.
Bukan hanya prestasi yang dikejar oleh setiap negara lewat turnamen dua tahunan ini. Akan tetapi, ada juga semacam pertarungan adu gengsi untuk membuktikan siapa yang terkuat, sehingga pantas dijuluki jawaranya sepak bola Asia Tenggara.
Oleh karena itu, bila anda perhatikan dan simak dalam pertandingan-pertandingan yang berlangsung. Di sana terdapat daya juang yang meluap-luap dari setiap timnas (tim nasional). Daya juang tersebut sangat unik, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Jadi, bisa dikatakan setiap negara mempunyai daya juang khasnya masing-masing. Dan perbedaan ini, menurut akal sehat saya (penulis) sangat mencerminkan karakter yang khas pula dari bangsa yang bersangkutan. Karakter yang terbentuk dari latar belakang dan pengalaman hidup bangsa tersebut.
Ada Vietnam yang tampil heroik, se-heroik bangsa ini ketika bertempur habis-habisan memukul si Rambo dari Amerika. Siapapun lawannya, bahkan sang macan Asia Tenggara, Thailand, taktik yang mereka tunjukkan relatif hampir sama yakni serang, serang dan serang terus. Ngotot, itulah yang terpancar dari gaya permainan Vietnam. Sebuah sikap petarung sejati; maju terus, tak pernah mundur-mundur barang selangkahpun.
Ada Indonesia yang tampil dengan persiapan minim. Lagu lama selalu terulang di setiap tahun; apapun event yang diikuti tim Garuda, langkah persiapannya selalu terkesan tidak optimal dan serba dadakan. Wajar, ini negara santai. Di saat timnas Myanmar dan Kamboja melakukan persiapan diri sedini dan semaksimal mungkin, di sini masih “asik-asik aja”. Kalau kata anak-anak gaul; “Slow aja bro !”. Meskipun kondisi alam kita sekarang sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu kala, sifat santai karena dimanjakan kekayaan alam dari nenek moyang nampaknya terus merintis sampai anak cucu.
Ada Kamboja yang tak mau dipandang sebelah mata. Seolah ingin menunjukkan; “Negara lain jangan menganggap remeh kekuatan kami !. Memang kami negara kecil, tertinggal, miskin, tapi bukan berarti kami enteng untuk disingkirkan !”. Walau tak diunggulkan sama sekali, timnas Kamboja muncul sebagai tim yang paling sesumbar. Sebagian kalangan men-capnya sebagai sikap tak tahu diri, tapi bagi saya ini namanya percaya diri. Singapura baru bisa menjebol gawang Kamboja di akhir babak pertama, Indonesia tidak mampu mengulang kejayaan mendulang gol, cukup empat saja kali ini dan Myanmar pontang-panting mencari celah untuk merobek jala Kamboja.
Ada Singapura dengan delapan pemain hasil naturalisasi-nya. Demi mengejar prestasi dan gengsi, timnas ini merekrut delapan pemain asing. Sudah tidak relevan lagi memang jika mereka tetap dipanggil pemain asing, karena secara de jure kedelapan pemain tersebut sudah sah jadi warga negara Singapura. Namun tetap saja mereka terasa asing, paling tidak bagi mata. Di tengah-tengah penduduk Singapura yang kita tahu merupakan campuran etnis Melayu-Cina-India, bermain di lapangan orang-orang berwajah bule dari Inggris, yang hitam legam dari Afrika serta yang sipit dari Asia Timur. Aneh kelihatannya. Terbesit sebuah pertanyaan; apakah dalam diri para pemain naturalisasi itu timbul rasa nasionalisme yang sama dengan Firman Utina saat mengenakan kaos merah putih ? dengan Tharateep Nowonthai saat menyanyikan national anthem negaranya sebelum bertanding ? dengan Indra Putra saat lari-lari demi mencetak gol untuk Negeri Jiran ? Penulis dan barang kali anda juga, pasti menjawab; “Tidak mungkin !”
Itulah mental negara Singapura ! Mental negara yang di-jaya-kan oleh campur tangan asing (dalam hal ini, Inggris). Di segala lini, bahkan sampai urusan sepak bola, negara ini ditopang sokongan pihak luar. Sulit untuk mengatakan bahwa negara ini negara mandiri, negara yang bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Pada saat yang bersamaan, di Irak, seorang wartawan bernama Muntadhar Al-Zaidi nekad menyambit Bush dengan sepatunya saat Bush berpidato soal kondisi di negara Irak. Tindakan yang konyol tapi sangat mencirikan kepahlawanan. Tindakan yang tidak muncul serta merta begitu saja, tetapi mesti ia didorong oleh rasa patriotisme dan nasionalisme seorang warga negara akan bangsanya. Tindakan yang kecil, amat sederhana, bukan granat yang ia lempar, hanya sepasang sepatu. Namun akibatnya merebak, meluas kemama-mana. Dari Irak sampai Mesir, ribuan penentang Bush, penentang Amerika yang imperialis, penentang perang, penentang pemerintahan boneka Irak, semuanya turun ke jalan memberikan dukungan kepada aksi Al-Zaidi.
Apakah Precious, Ji A Yi, Agu Casmir, Daniel Bennet, Fakhruddin dan pemain naturalisasi lainnya akan melempar sepatu juga kalau ada pihak manapun yang menghina negaranya yang sekarang, Singapura ? Sulit membayangkan ke arah sana.
Mudah-mudahan negara kita, Indonesia yang tercinta ini tidak sampai seperti itu. Meskipun banyak orang bilang, mungkin timnas kita baru bisa masuk piala dunia pada tahun 3000 kelak. Namun, kita tentunya berharap timnas kita pada tahun 3000 masehi itu tetap diperkuat tenaga asli pribumi, bukan naturalisasi macam Singapura.
Namun nurani tergelitik. Kondisi negara Indonesia sekarang sudah terlalu banyak dicampuri tangan-tangan asing, terutama di bidang pengelolaan sumber daya alam dan perekonomian secara umum. Kabar angin mengatakan bahwa demikian pula di sektor pertahanan dan kemanan negara, intervensi asing sudah merasuk jauh. Wah, kalau begini terus, jangan-jangan negara kita akan bernasib sama dengan Singapura. Apalagi ada pendapat kalau salah satu karakater khas orang Indonesia adalah bermental budak atau hamba sahaya. Jika demikian benar adanya, semakin terbuka lebar lah peluang kita untuk menjadi seperti Singapura.
Mungkinkah kita akan se-loyo Singapura dalam mengurus negara, sehingga segala perkara ini-itu harus selalu ada pihak asing di dalamnya ? Mungkinkah kita akan semaju negara Singapura namun itu hasil kreasi asing dan kita hanya berperan sebagai kulinya ? Kita tunggu saja nanti, siapa pemain asing naturalisasi yang pertama kali memperkuat tim Garuda.

JANGAN LEBAY DONG AH !

Segala hal yang terjadi di Amerika Serikat (AS), hampir semuanya menular pula ke seluruh pelosok bumi, tak ketinggalan Indonesia. Mulai dari persoalan entertainment, perekonomian, life style sampai dunia politik. Kok bisa kayak gini ya ? Ini satu pertanda bahwa Negeri Paman Sam benar-benar telah menjadi super power country. Tidak hanya dalam artian bahwa AS memiliki kedigdayaan dalam bidang perang-perangan. Namun juga berarti bahwa negara-negara lain – baik yang termasuk kategori negara maju, apalagi yang statusnya masih berkembang dan terbelakang – berkiblat ke AS.

Salah satu perkara yang sekarang sedang rame di AS yang kemudian negara lain jadi ikut-ikutan heboh juga ialah terpilihnya Barrack Hussein Obama menjadi presiden, menggantikan George Walker Bush. Dan kehebohan itu terjadi juga di Indonesia, bahkan sejak Obama masih dalam masa kampanye.

Media massa menjadi faktor utama penyebab kehebohan latah ini. Begitu masif-nya media massa memberitakan setiap perkembangan yang terjadi selama pilpres di AS itu. Bahkan sampai debatnya pun disiarkan eksklusif, seolah mengetahui permasalahan mayarakat AS itu menjadi satu hal yang sangat urgent bagi kita. Tak jarang, pemberitaan-pemberitaan itu menggiring opini masyarakat untuk melihat Obama secara (sangat) positif.

Obama disebut-sebut mempunyai kedekatan emosional dengan bangsa Indonesia. Apa pasal ? Karena beliau pernah tinggal dan bersekolah di Jakarta selama empat tahun (waktu SD) serta memiliki bapak tiri seorang jawa. Kemudian statement ini sering dilanjutkan atau ditambahi dengan pernyataan harapan bahwa karena kedekatannya ini Obama akan membawa hubungan AS-RI ke jalan yang lebih baik.

Apa-apaan ini ? Apanya yang dekat secara emosional ? Statement kedekatan emosional itu, menurut hemat saya sudah terlalu berlebihan. Bila dalam arti; “Obama dekat secara emosional dengan bapak tirinya yang notabene orang Indonesia”, it’s ok lah, ini wajar toh memang sudah seharusnya seperti itu hubungan antara anak-bapak. Tapi jika kemudian si bapak yang Indonesia itu digeneralisasikan pada bangsa Indonesia, eits, di sini kita mesti hati-hati. Pernah tinggal di sini belum tentu dekat secara emosional dengan negara kita tercinta, betul ?

Terkait mudanya usia Obama yang masih sekitar 40 tahunan, isu agar calon presiden kita untuk 2009 nanti harus dari golongan muda (di bawah 50 tahun) juga meningkat. Latah sekali bangsa kita ini bukan ?

Parpol yang mencap diri sebagai partai-nya kalangan muda (apalagi usia partai-nya pun masih muda) tampil menjadi “kompornya”. Sedangkan parpol yang sedari awal sudah punya calon pasti dan sayangnya si calon itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kegerahan dikompori partai yang masih “bau kencur”. Padahal, kalau dipikir-pikir, mau masih berondong atau sudah tuir sekalipun, presiden itu kan yang penting performance-nya. Lagi pula alasan kenapa presiden harus di bawah 50 tahun masih belum jelas, baru sebatas; “bosan dengan muka-muka lama”. Idih, alasannya enggak banget deh !

Di ranah pergerakan aktivis Islam, lagi-lagi statement kedekatan emosional muncul. Kali ini Obama dibilang dekat secara emosional dengan kalangan muslim. Why ? Sebab bapak kandungnya Obama ialah seorang Kenya yang Islam. Sering kali terkait hal ini, keluar pernyataan-pernyataan yang bunyinya berharap kalau Obama akan membawa pencerahan kepada dunia Islam secara global, terutama mengenai nasib umat Islam di Palestina.

Bahwa kebijakan AS terhadap umat muslim sering merugikan dan sinis, tidak dapat dipungkiri. Namun berharap kalau Obama dapat membawa nasib baik bagi masyarakat muslim – apalagi hanya karena bapaknya Islam itu – jelas imposibble. Silakan anda telusuri, justru selama kampanye, Obama selalu menolak undangan dari para tokoh muslim setempat untuk berdialog. Giliran ke kaum Yahudi (yang sering disebut sebagai musuh laten umat Islam), ya ampun, disuruh cium kaki pun tampaknya dia mau. Memang McCain pun sama halnya demikian mengenai kedekatannya dengan kaum Yahudi. Karena keberadaan dan kepentingan kalangan Yahudi di AS, memang sangat berpengaruh. So, soal bagaimana hubungan Amerika-dunia Muslim ke depannya di bawah kepemimpinan Obama, kita tinggal wait and see saja.

Apa artinya semua ini ?

Ikut-ikutan heboh dengan pilpres AS yang mengantar Obama memegang tampuk kekuasaan sih wajar-wajar saja. Amerika gitu loh ! Jangankan soal pilih memilih presiden, di sana booming American Idol, di sini juga bikin Indonesia Idol. Ya, saya juga tahu, bukan hanya kita yang begini. Tapi mari kita kembali ke masalah proporsional. Yang dirasakan mengenai Obama sekarang, menurut saya sudah lewat dari batas proporsional, dalam arti tidak seharusnya berlebihan seperti itu.

Jadi harus bagaimana kita ini ?

Seperti yang anak gaul zaman sekarang sering bilang; “Jangan lebay dong ah !” Atau jangan-jangan lebay (belebihan) itu memang karakter khas bangsa kita ? Ah tak tahulah aku.