Wednesday, January 20, 2010

SOAL KELAMIN DALAM SUNDA DAN INDONESIA



Sama halnya dengan bahasa-bahasa lain, dalam Bahasa Sunda juga terdapat penamaan tersendiri untuk menyebut bagian-bagian tubuh, luar maupun dalam. Pada umumnya, masyarakat kita memiliki pandangan bahwa menngucapkan kata yang menunjuk organ kelamin, baik pria ataupun wanita, ialah suatu perbuatan yang kurang senonoh. Hal tersebut dikarenakan kata-kata penunjuk organ kelamin dinilai sebagai “kata-kata kotor”, sehingga tak pantas diucapkan. Selain itu, memngucapkan kata organ kelamin selalu dikonotasikan sebagai cabul atau mesum.
  
Ajaibnya, dalam tata Bahasa Sunda, penyebutan nama organ kelamin justru tidak dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Sederajat tingkatannya dengan nama-nama organ tubuh lainnya. Alih-alih dinilai cawokah / jorang (mesum), kata penunjuk kelamin ini malah dipakai dalam beberapa istilah ungkapan. Contohnya sebagai berikut :
1.      Laer Kanjut. Secara harfiah = Panjang Penis-nya. Secara terminologis merupakan ungkapan untuk lelaki yang pemberani, tak kenal takut.
2.      Kanjut na Tarang. Secara harfiah = Penis di dahi. Secara terminologis merupakan ungkapan untuk orang yang punya sifat pemalu, mudah malu, dikit-dikit malu.
3.      Imut Kanjut. Secara harfiah = Lucu / imut (seperti) penis. Secara terminologis bermakna senyum yang manis, menggemaskan. Jangan ditanya apa lucunya seonggok penis hingga dipakai untuk mengungkapkan senyum yang manis, pokoknya ti dituna alias dari sono-nya sudah begini.
4.      Kanjut Kundang. Secara harfiah = Kantung penis. Ini sebetulnya bukan kata ungkapan, melainkan nama sebuah benda yakni kantung yang dulu biasa dipakai oleh karuhun (nenek moyang) kita untuk menyimpan uang.

Menurut budayawan Sunda, H.Taufiqurrahman, munculnya kata “kanjut” dan kata kelamin lainnya dalam ungkapan-ungkapan atau penamaan sebuah benda, dikarenakan sifat khas orang sunda itu sendiri yang pikirannya mudah terasosiasi ke hal-hal yang begituan. Kalau kata orang Betawi; “Gampang ngeres pikirannya”. Contohnya untuk kata kanjut kundang. Ditambahi kata kanjut karena bentuknya yang menggayut sama persis (menurut orang sunda) dengan penis terutama bagian buah zakar-nya.

Kalau dalam tata Bahasa Sunda, sebetulnya tidak mesum dan dianggap kotor, jika mengucapkan kata penunjuk organ kelamin, seperti dalam contoh; “kanjut” (penis). Lantas kenapa orang Sunda kebanyakan, juga memiliki keyakinan yang sama dengan lazimnya orang bahwa mengatakan kata kelamin itu jorok ? Mungkin ini karena faktor pengaruh lingkungan dan kebiasaan.

Selain kata “kanjut”, dalam Bahasa Sunda juga terdapat ungkapan-ungkapan atau nama-nama benda yang menggunakan kata penunjuk organ kelamin wanita (heunceut = vagina). Apa saja itu ? Silakan pembaca cari tahu sendiri.

Di luar penggunaan nama kelamin dalam menyebut benda dan ungkapan. Nama organ kelamin bahkan juga dijadikan nama daerah. Sebut saja, daerah Sarkanjut, Patepung Kanjut, atau Desa Baok (bulu kemaluan).

Terkait tata bahasanya yang berstrata. Nama kelamin juga bermacam-macam, tergantung pada siapa kita bicara. Kata kanjut ialah kata penunjuk kelamin dalam strata paling rendah, cocok dipakai untuk berbicara pada orang yang umur dan kedudukannya sama atau lebih muda dari kita. Untuk orang yang secara kedudukan dan usia lebih tinggi, menyebut kata kanjut adalah tidak sopan.

Ya, itulah orang Sunda dan bahasanya. Banyak orang berpendapat bahwa karakter orang Sunda itu pintar mendua, bermain peran. Mirip-mirip orang Jawa. Di depan berlaku baik, di belakang beda lagi. Pendapat itu lemah bila kita melihat kenyataan penggunaan kata kelamin ini. Orang Sunda justu tanpa isin-isin (malu-malu) untuk terbuka dan menebar kata-kata – yang dianggap mesum – ini dalam beragam penggunaan. Menunjukkan bahwa orang Sunda punya karakter tog mol atau kalau kata istilah kerennya; to the point.


Keberanian orang Sunda tersebut juga dapat kita jadikan bahan renungan; “Apa mesumnya menyebut nama organ kelamin ?”.  Seperti kata-kata lainnya, sebuah kata akan memiliki arti mesum, “kotor”, tak sopan, tergantung dari penempatannya, dengan kata lain tergantung pada dalam konteks apa kata-kata itu diucapkan. Kata “bangsat” tidak memiliki makna apa-apa selain sebutan bagi orang yang punya pekerjaan maling/mencuri. Namun, ketika kata ini diucapkan dengan nada marah/mencela dan dalam situasi “panas”, penyebutan kata “bangsat” inipun jadi tak enak didengar. 
 
Miskin Atau Terlalu Sopan ?
Berbeda keadaannya dengan Bahasa Sunda yang “amat vulgar” dalam mengumbar kata-kata penunjuk kelamin. Dalam tata Bahasa Indonesia (baca : Bahasa Nasional), justru mengalami kemiskinan kosa kata yang menunjuk ke organ kelamin. Untuk mengujinya, silakan anda tanya pada teman anda; “Apa bahasa Indonesia-nya penis dan vagina ?”. Pasti teman anda menjawab dengan kata-kata yang sudah lazim kita dengar, seperti k*nt*l dan m*m*k. Carilah kedua kata tersebut di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), terserah mau yang buatan JS. Badudu atau yang buatan Balai Pustaka. Dijamin, pasti anda tidak akan menemukan kedua kosa kata tersebut.

Pada kedua kamus tersebut, kata penis dan vagina, sudah dibakukan menjadi kosa kata Bahasa Indonesia. Padahal kitapun tahu, kedua kata tersebut merupakan istilah ilmiah yang biasa digunakan dalam konteks biologi ataupun medis. Mungkin, karena muncul dari percakapan kelas atas (ilmiah), pengucapan kata penis dan vagina lantas selalu dinilai lebih sopan dan elegan. Adapun kata-kata bermakna sama yang sudah umum digunakan masyarakat seperti k*nt*l dan m*m*k, selalu dinilai jorok, tak beradab, sembrono.

Masih mending buat kaum lelaki yang selain kata “penis”, juga dicantumkan di Kamus sinonimnya seperti zakar, buah zakar dan pelir. Kalau untuk wanita, sejauh penelusuran saya, hanya betul-betul vagina yang ada. Itu saja.

Muncul suatu pertanyaan; Apakah dalam bahasa melayu memang tidak ada kata-kata penunjuk organ kelamin sehingga harus menyerap kata kosa kata asing ? Ya, bahasa melayu, karena bahasa ini merupakan induk dari lahirnya Bahasa Indonesia. Atau miskinnya Bahasa Indonesia dalam soal kosa kata kelamin ini karena tindakan terlalu sopan ? Sampai-sampai para ahli bahasa tak sampai hati memasukkan ke dalam kamus teksaurus kata-kata semacam k*nt*l dan m*m*k yang sebenarnya pemakaiannya sudah jamak.

Sebagai bahan tambahan, coba bandingkan dengan Bahasa Inggris yang sama seperti Bahasa Sunda, memiliki varian nama untuk kelamin. Bahasa Indonesia ? Coba tolong carikan jawabannya.....

10 comments:

  1. Wah dunia serasa selebar daun kelor.
    search keyword "kanjut kundang" eh nyasarny malah nyasar ke blog bapa tua ini...
    makasih inpony gan..

    ReplyDelete
  2. Pemikiran yg bagus

    ReplyDelete
  3. oh maka nya cewek sunda terbuka tentang sex karna budaya bahasa nya :D menarik thank

    ReplyDelete
  4. wow bung anonymous ini "bahaya" sekali statement-nya, hehehehe...

    statement anda; "cwek sunda terbuka tentang sex," sepertinya mesti dipikirkan dengan benar terlebih dahulu.

    Menarik itu bung anonim untuk diteliti apakah memang ada korelasi antara "bahasa vulgarnya" org sunda dengan karakter "terbuka pada sex" pada orang sunda itu sendri, khusunya kaum hawa (sebagaimana statement di atas) ?

    Terima kasih sudah berkunjung, membaca dan menanggapi.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Macana bari seuseurian,,, pikaseurieun.. :D

    ReplyDelete