Wednesday, January 20, 2010

BERSIH DARI BLACK


Di penghujung tahun 2009, Pemkot Bandung memutuskan untuk segera membangun mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). Kedua jenis moda transportasi massa ini dipercayai akan dapat mengurangi tingkat kemacetan di Kota Bandung. Sebelum Bandung, kota-kota lain sudah duluan melakukan usaha yang sifatnya mencegah dan mengurangi tingkat kemacetan. Sebut saja Jakarta dengan busway-nya. Lalu ada Yogyakarta yang memodifikasi konsep busway di ibu kota, hingga muncullah bus-bus TransJogja. Adanya rencana-rencana khusus yang dirancang jajaran pemerintah kota guna menghadapi soal kemacetan, memperlihatkan bahwa kemacetan ialah bukan sembarang masalah.

Kemacetan. Di satu sisi menunjukkan bahwa betapa makmurnya ternyata rakyat Indonesia ini. Semakin banyak kendaraan di jalan berarti semakin banyak penduduk Indonesia yang sudah mampu membeli mobil-motor. Namun mesti diakui, kemakmuran ini penyebarannya sangat belum merata dan jauh dari ideal. Kemakmuran baru terjadi sebatas di kota-kota saja.

Dilihat dari sisi sosial. Kemacetan merupakan fenomena yang amat menyedihkan. Cerminan bahwa semakin hari manusia per individu semakin egois dan arogan saja. Dalam situasi kemacetan, setiap seorang memandang orang lain di sekitarnya sebagai orang-orang yang tak diharapkan atau bahkan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Arogansi itu timbul dalam bentuk raungan klakson yang menyahut-nyahut tak sabar, umpat dan caci maki, rendahnya toleransi, serta hilangnya perasaan mengalah demi kebaikan bersama. Celakanya, individualitas dalam kemacetan ini kerap kali terbawa-bawa pada aspek kehidupan lainnya.

Jika kita bicarakan kemacetan dalam kaitannya dengan isu kerusakan lingkungan. Jelaslah hubungannya bahwa semakin tinggi tingkat kemacetan, semakin tinggi pula tingkat kerusakan alam yang terjadi (dalam hal ini polusi udara). Kenapa bisa demikian ? Macet disebabkan oleh pertumbuhan jumlah kendaraan yang meledak tak terbendung. Jumlah kendaraan yang bombastis tersebut menyumbangkan asap polutan dalam jumlah luar biasa yang semakin memperburuk kualitas udara kita.

Mobil apalagi motor, kini sudah seperti hand phone saja. Orang membelinya bukan atas asas kebutuhan lagi. Namun lebih karena faktor gaya hidup (life style). Dikarenakan sifatnya yang demikian, usaha mengurangi kemacetan dengan membangun sarana transportasi yang mutakhir sebetulnya sia-sia saja. Pada akhirnya, secanggih apapun sebuah sistem transportasi massa, orang-orang yang menaiki angkutan umum hanyalah orang-orang yang kebetulan sampai saat itu belum punya kendaraan. Jika tidak percaya, silakan lihat sejauh mana efektifitas busway dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. Peribahasa mengatakan; “Anjing menggongong, kafilah berlalu”. Busway ya busway, adapun kemacetan tak kunjung surut jua.

Sebagai life style, perusahaan industri otomotif sudah pasti yang paling bertanggung jawab atas munculnya gaya hidup tak sehat ini. Di luar industri otomotif, ada pihak-pihak lain yang ikut bertanggung jawab, diantaranya ialah pihak-pihak yang ikut memelihara gaya hidup tersebut. Secara proporsi, tanggung jawab pihak pemelihara ini kecil dibandingkan dengan tanggung jawab yang mesti diemban si induk industri kendaraan.

Djarum Black ialah salah satu pihak pemelihara gaya hidup berkendaraan yang mesti bertanggung jawab. Agar tidak terlalu luas, kita batasi isu pada hal yang kongkrit, yaitu soal dampak kerusakan lingkungan. Djarum Black merupakan salah satu perusahaan yang secara khusus membidik target pasar kalangan otomania (penggila otomotif). Ini terlihat dari event-event yang terselenggara, seperti; autoblackthrough, Black Motodify, Black Car Community, dan Black Motor Community.

Sebagai perusahaan yang merangkul komunitas-komunitas penggemar otomotif dan menjadi rujukan masyarakat untuk bidang life style otomotif. Idealnya, Djarum Black dapat menggerakkan para otomania tersebut untuk sama-sama berbuat sesuatu yang sifatnya kuratif bagi alam yang telah rusak ini. Djarum Black dan para blackmania jangan hanya bisa membuat black udara. Tapi juga mesti membuktikan bahwa mereka juga peduli terhadap kualitas udara yang kian hari kian hitam.

Djarum Black, sebagai salah satu icon inovasi khususnya untuk kalangan anak muda, memiliki kapasitas untuk memancing pemikiran-pemikiran inovatif dari masyarakat dalam hal pelestarian lingkungan. Contohnya, pihak Djarum Black dapat mengadakan kategori baru, yakni aspek ramah lingkungan sebagai salah satu penilaian di ajang autoblackthrough atau mungkin menjadi cabang kompetisi yang baru.    

Masalah kerusakan lingkungan ialah masalah kita bersama. Perbaikan harus dimulai dari setiap unit-unit terkecil, yakni dari masing-masing diri kita sendiri dulu. Unit-unit besar, perusahaan contohnya, adalah pihak yang mampu menghimpun kekuatan banyak unit kecil agar lebih terorganisir dan efektif. Di sisi lain, unit besar juga dapat mempengaruhi unit besar lainnya (misalnya, perusahaan kompetitor) untuk sama-sama berjuang pada hal yang serupa. Djarum Black, saya yakin memiliki kekuatan untuk menghimpun dan menggerakkan jutaan blackmania dalam melakukan usaha pelestarian lingkungan. Usaha Djarum Black ini juga sangat mungkin dicontoh oleh perusahaan lain yang sama-sama memiliki perhatian khusus pada kalangan penggila otomotif. Kita bisa ! Djarum Black bisa ! Blackmania bisa !

No comments:

Post a Comment