Sunday, August 14, 2011

MENULIS ITU SUSAH !



“San gimana sih caranya nulis ?”
Sebuah pertanyaan yang dulu begitu sering saya terima, baik dari teman-teman di lingkungan kampus maupun dari pengunjung atau penyiar radio ketika berada dalam acara talk show. Waktu itu secara beruntun saya menulis tiga buah buku yang kesemuanya dikategorikan penerbit sebagai “buku psikologi populer”. Sambil senyum (yang sarat kebanggaan diri), sayapun menjawabnya dengan enteng; “Ah gitu aja lah, duduk depan komputer, terus tulis deh apa yang ada di kepala, keluarkan saja dulu semuanya, koreksi dan edit itu belakangan.”

Dipikir-pikir, memang dulu mudah saja bagi saya untuk mengetik huruf demi huruf. Entah itu untuk kepentingan menulis buku, ikut sayembara-sayembara penulisan atau sekadar iseng membuat satu-dua cerpen dan sajak. Apa yang terjadi betul-betul sesuai dengan jawaban mengentengkan saya; “duduk depan komputer-keluarkan semua yang ada di pikiran.” Untuk menyalurkan hasrat menulis tersebut, ditambah ada dorongan untuk saling berbagi pemikiran dengan orang lain, terciptalah blog ini; TULAS-TULIS.

Mulanya tidak ada kendala sama sekali untuk tulas-tulis di blog TULAS-TULIS ini. Saya jejali dia dengan sajak-sajak dan cerpen-cerpen saya yang gagal muat di media cetak atau kalah dalam perlombaan, resensi dari buku-buku yang saya baca sampai gabungan materi-materi kuliah. Menulis bahan baru ? No problemo, lancar-lancar saja. Pada akhirnya, yaaa… bisa dibilang blog ini begitu hidup, demikian juga dengan diri saya yang saya rasakan begitu bersemangat karena hasrat saya untuk menulis dapat tersalurkan. Tapi kini lain cerita.

Sekarang terasa sedemikian sulitnya bagi saya untuk mencurahkan pikiran dalam beberapa kata saja, hingga blog inipun sampai tak tersentuh berhari-hari. Padahal dulu, secara berkala, paling tidak seminggu sekali selalu saya usahakan ada tulisan baru. Malas rasanya melihat monitor komputer atau beberapa helai kertas bekas untuk saya coret-coreti. Padahal dulu, paling gemas saya melihat putihnya kertas ms.word ataupun kertas nyata. Diam-diam sayapun mulai menyalahkan waktu.

Tidak ada yang salah dengan waktu. Karena ia tak pernah mengurangi dirinya sendiri. Sehari tetap satu kali siang, satu kali malam. Seminggu tetap tujuh hari dan setahun masih dua belas bulan baik itu menurut hitungan peredaran bulan atau matahari. Adalah saya yang mengurangi sendiri waktu saya untuk menulis.

Lelah. Itu saja. Apa yang membuat saya sampai begitu teganya menyunat kesenangan saya sendiri ialah rasa lelah. Terutama lelah memikirkan ini-itu soal kerjaan. Sampai ketika saya pulang ke rumah, sudah jenuh saya melihat layar laptop. Sampai ketika datang hari-hari akhir pekan, tak mau jauh-jauh aku dari bantal dan guling, menyimpan pikiran untuk ditulis di alam mimpi. Bahkan untuk satu tulisan curhat yang amat enteng ini, mati-matian saya menyemangati diri sendiri untuk mau meluangkan waktu sedikit saja.

Yaaa… jika kini ada lagi orang yang bertanya pada saya; “San gimana sih caranya nulis ?.” Dengan yakin sekarang saya akan menjawab; “Wah, menulis itu susah !.” Justru saya kini yang akan balik bertanya; “Gimana sih caranya nulis itu ?.”


Ditulis ketika badan masih merasakan capek pasca dinas ke luar pulau. Ingin menulis sesuatu tetapi bingung mau menulis apa karena di otak penuh dengan tumpukan ide yang disimpan-simpan terlalu lama. Fuh… nulis segini aja langsung kerasa capek…

No comments:

Post a Comment