Thursday, August 4, 2016

3 in 1 : Bekasi - Depok




Belum pernah sebelumnya saya menceritakan di blog ini mengenai pengalaman saya mengikuti sebuah kegiatan atau melakukan sebuah perjalanan. Kebanyakan saya menumpahkan khayalan dalam cerita-cerita pendek atau berbagi pemikiran melalui artikel-artikel singkat. Imajinasi ada kalanya tidak berkembang, ide ada waktunya buntu. Jika sedang kosong seperti itu, biasanya saya mempublikasi lowongan-lowongan kerja yang ada di perusahaan saya. Namun perusahaan saya juga tentu tak selalu melakukan penerimaan pegawai. Kalau sudah seperti itu, blog pun jadi terabaikan berhari-hari lamanya. Adapun sebuah pengalaman senantiasa hadir dalam setiap hembusan napas dan gerak otot kita. Sumber menulis yang tak akan ada habisnya. Tinggal permasalahan mau atau tidak, malas atau tidak untuk menuangkannya dalam barisan-barisan kalimat.

Di tulisan pertama saya yang berjenis diary / catatan pengalaman sehari-hari ini. Saya ingin menceritakan pengalaman mengikuti sebuah pelatihan bertajuk How to be a goodAssessor – Angkatan 4” yang diselenggarakan oleh Logos Consulting Indonesia pada 30-31 Juli 2016 di Gedung Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (UI).

Commuter Line Bekasi – Depok
Dalam pekerjaan, beberapa kali saya dituntut untuk melakukan perjalanan jauh, dalam ataupun luar Pulau Jawa. Menggapai daerah-daerah yang sama sekali belum pernah saya tandangi, terkadang ditemani seorang mitra, seringnya sendirian. Anehnya, saya tidak terlalu khawatir mengenai perjalanan-perjalanan tersebut; “Nanti arahan jalannya bagaimana ? Tinggal di mana ? Bagaimana situasi di daerah sana ?,” dan hal-hal lainnya. Prinsip saya; selama masih punya mulut, pasti selamat. Maksudnya, saya tinggal tanya sana-sini selama perjalanan dan sesampainya di tempat yang saya tuju untuk kepentingan-kepentingan yang saya perlukan.

Beberapa rekan kerja hapal betul dengan tabiat saya yang seperti itu. Oleh karenanya mereka agak jengkel juga melihat saya yang riweuh, cerewet, banyak tanya ini-itu mengenai perjalanan ke Depok dari Bekasi. Sebenarnya yang membuat saya cemas itu bukan jarak atau tidak hapal daerah Depok, khususnya sekitaran Universitas Indonesia. Saya cemas karena rekan-rekan kerja menyarankan menggunakan moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek atau yang sekarang disebut Commuter Line. Begitu dikatakan KRL, segera terlintas di pikiran saya serentetan adegan “laga”; mengejar-ngejar kereta, sikut-menyikut rebutan masuk kereta, “bertahan hidup” di dalam kereta yang penuh sesak, panas serta bau keringat dan ancaman tangan-tangan copet. Belum lagi saya tidak tahu nanti di stasiun harus naik dari jalur berapa dan tidak hapal urutan stasiun yang akan saya lewati. Beberapa tulisan di blog mengenai pengalaman pertama menggunakan Commuter Line yang saya temukan via googling menyebutkan bahwa hati-hati agar tidak salah saat naik atau turun kereta.

Bismillah, jumat sore, 29 Juli, saya berangkat dengan hati yang masih berdebar-debar. Sampai depan loket Stasiun Kranji, kecemasan itu masih belum hilang. Di loket saya membeli Tiket Harian Berjaminan (THB) seharga Rp. 13.000 untuk tujuan akhir Stasiun UI. Cukup takjub saya melihat tiket yang ternyata berbentuk kartu elektronik seperti kartu ATM. Penggunaan kata takjub itu sebetulnya terlalu lebay, lebih pasnya disebut norak. Sambil memandangi kartu tiket, saya berlalu dari loket. Belum sampai 3 langkah, orang yang mengantri di belakang saya memanggil. Rupanya, lantaran terlalu fokus pada kartu tiket saya lupa mengambil uang kembalian pembelian tiket (saya membeli menggunakan selembar lima puluh ribuan).

Setelah bertanya tiga kali – pada satu satpam dan dua orang sesama penumpang tentang apakah saya sudah berdiri di jalur yang benar untuk kereta tujuan Depok – akhirnya datanglah kereta tersebut. Begitu masuk kereta, runtuhlah segala bayangan saya mengenai KRL. Kondisi di dalam kereta sangat rapi, kursi-kursi dan segala perabot yang ada masih nampak bagus nan terawat, suasananya pun sejuk ditiup angin AC. Saya tak perlu pegal berdiri karena banyak kursi yang kosong, kondisi gerbong dapat dikatakan sangat lengang. Kekhawatiran turun di stasiun yang salah juga pudar karena setiap beberapa menit sebelum kereta memasuki sebuah stasiun, berkumandang sebuah pengumuman menginformasikan stasiun apa yang akan disinggahi. Naik KRL tidak saya duga akan senyaman ini. Tiba di Stasiun Manggarai, saya turun dan berganti dengan KRL lain yang akan mengantarkan saya ke Stasiun UI. KRL Manggarai padat penumpang, sayapun berdiri sepanjang perjalanan. Kendati demikian, masih saya kategorikan nyaman karena suasana gerbong yang adem. Soal kosong-padatnya penumpang ini sebetulnya saya sudah diberitahu oleh rekan kerja bahwa KRL keberangkatan dari Bekasi pasti jarang penumpang, dari Manggarai baru berdesak-desakkan. Sedangkan perjalanan sebaliknya, menuju Bekasi, dari awal keberangkatan sampai ke Bekasi, pasti padat terus. Pada perjalanan pulang di hari Minggu, 31 Juli, saya pun dapat membuktikan kebenaran informasi rekan saya tersebut. Dari Stasiun UI sampai Kranji, tak sedikitpun pantat ini menyentuh empuknya kursi.

Rangkuman Perjalanan
Tiket KRL Kranji – Stasiun UI / Stasiun UI – Kranji : Rp. 13.000
Stasiun transit : Manggarai (jalur 5)


Margonda Residence Apartment
Rekan-rekan kerja menyarankan saya untuk melakukan perjalanan pulang-pergi. Soalnya, Bekasi-Depok paling banter menghabiskan waktu 1-2 jam saja. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan :
  1. Kalau pulang-pergi, saya hanya punya sedikit waktu istirahat (berangkat setelat-telatnya jam 5 shubuh dan saat pulang, secepat-cepatnya sampai rumah sekitar jam 7 maghrib), 
  2. Dari kantor saya dibekali ongkos perjalanan dinas beberapa lembar seratus ribuan,
Akhirnya saya putuskan untuk menginap saja. Ada beberapa alternatif untuk mencari penginapan di sekitar wilayah UI. Yang pertama saya hubungi adalah Wisma Makara dan Guest House Pusat Studi Jepang. Kedua penginapan ini berada di dalam komplek UI. Sayang, penginapan yang paling dekat ke venue acara yakni Guest House Pusat Studi Jepang sedang full booked. Adapun Wisma Makara, harganya melenceng dari budget saya. Setelah melakukan googling dengan beberapa keyword, akhirnya saya mendapatkan tempat di sebuah apartemen yang bisa disewa harian, yaitu di Margonda Residence Apartment. Meskipun letaknya berada di Jalan Margonda, di luar komplek UI, jarak dari Apartemen ke UI tidak terlalu jauh. Jika kondisi bugar dan senang olah raga, ditempuh dengan jalan kaki juga oke-oke saja.

Informasi apartemen sewa harian ini saya dapat di situs www.penginapanmurahdepok.com. Saya kemudian menghubungi pengelolanya melalui whatsapp. Si pengelola sebetulnya meminta agar saya menransfer sejumlah uang muka sebagaimana yang telah ia informasikan di situs sebagai tanda jadi (ancamannya, kamar saya bisa saja diberikan ke orang lain yang bisa transfer uang muka). Akan tetapi saya tetap menginginkan agar transaksinya tunai sesampainya saya di Apartemen.

Sampai di apartemen, saya dijemput oleh karyawan si pengelola. Saya mendapatkan kamar bernomor HH-1626 di lantai 16. Bagaimana kamarnya ?. Sayang saya tidak sempat memfoto situasi dalam kamar, sehingga bisa menunjukkannya pada para pembaca. Yang pasti, kamarnya bersih, cukup luas untuk penghuni 1-2 orang, kasur bersih (tidak ada bercak-bercak mencurigakan), tidak bau (bau iler atau anyir-anyir gak jelas) dan empuk, perabotan yang ada di dalam kamarpun cukup lengkap (ada meja kerja, TV, meja makan, kulkas, lemari, gelas-piring dan peralatan kebersihan). Kamar mandi ?. Bersih dan enak untuk dilihat (tidak jorok). Hal yang paling sering orang pertimbangkan saat memilih penginapan ialah; “Tempatnya jauh dari keramaian atau tidak ? Susah cari makan tidak ?.” Sebagai informasi tambahan, apartemen ini terletak di salah satu jalan teramai di Depok. Kiri-kanan apartemen banyak bertebaran tempat makan mulai kaki lima sampai kelas kafe. Ingat, jaraknya tak jauh dari UI; di mana ada mahasiswa pasti ada tempat nongkrong

Apa yang kurang ?. Dari pengamatan sekilas, saya hanya menduga-duga bahwa penyewa kamar-kamar harian di sini tidak jauh-jauh dari mahasiswa (sebagai kos-kosan), para pelancong yang ngirit (backpacker mungkin) dan pasangan kebelet yang hanya membutuhkan waktu hitungan jam. Oleh karena itu, wajar ketika saya meminta kepada karyawan pengelola selembar kwitansi untuk laporan pertanggungjawaban saya ke kantor, eh tidak ada. Untungnya, Mas Rayhan, the big boss dari kamar sewa harian ini sangat kooperatif. Ketika saya sampaikan butuh kwitansi, Mas Rayhanpun segera mengirimnya via email.

Alternatif penginapan dekat UI  

1. Wisma Makara (di dalam komplek UI)
(021) 7888 3670 / 72
Tarif : Rp.389.000 / malam (standard), Rp.399.000 (superior)
Rekomendasi : -  

2. Guest House Pusat Studi Jepang (di dalam komplek UI)
(021) 786 3547
Tarif : ? (belum sempat tahu karena kamarnya full)
Rekomendasi : -

3. Margonda Residence Apartment
Rayhan (WA : 0856-9507-1660 / BBM : 527A277A)
Tarif : Rp. 200.000 (weekdays), Rp.250.000 (weekend)
Rekomendasi : Dua jempol dah ! Kalau anda punya budget tipis, dari pada menginap di hotel kelas melati atau bintang 3. Lebih-lebih-lebih-lebih baik menginap di sini.
Rute ke UI : Jalan kaki (masuk UI melalui jalan Stasiun Pondok Cina). Dengan Gojek ongkos sekitar Rp. 20.000-an.


Training : How To Be A Good Assessor (Angkatan 4)
Pelatihan ini diselenggarakan oleh biro Logos Consulting. Pertama kali saya mendengar nama biro ini dari salah satu rekan alumni Psikologi UNISBA. Hal yang menjadi daya tarik utama dari pelatihan ini ialah biaya-nya yang relatif murah untuk topik Assessment Centre. Pelatihan yang serupa biasanya dibanderol mulai dari Rp.7.000.000. Sementara Logos Consulting hanya menetapkan harga Rp.1.750.000 ++. Kok ada plus-plusnya ? Harganya masih bisa naik ?. Maksudnya, harga “semurah” itu sudah mendapat bonus software kuesioner psikologis yang sudah umum diketahui banyak orang. Pepatah jawa bilang; ono rego, ono rupo (ada harga, ada rupa). Harga lebih rendah itu wajar karena pelatihan besutan Logos ini hanya berlangsung selama 2 hari. Sedangkan biro lain biasanya antara 5-7 hari.

Jika tema assessment centre itu diibaratkan sebuah novel. Maka pelatihan “How to be a good assessor” dari Logos itu ialah sinopsisnya. Sebagai sebuah sinopsis, pelatihan ini cukup memberikan pengenalan terhadap metode assessment centre, diantaranya :
  1.  Pengenalan konsep kompetensi 
  2. Pengenalan metode-metode assessment centre 
  3. Pengenalan bentuk pelaporan hasil assessment centre
Untuk poin 2, pelatihan ini menggunakan metode role play, sehingga peserta tahu bagaimana bentuk kongkrit dari setiap metode (kecuali in-depth/ BEI interview). Jika peserta sebelumnya sudah punya bekal, utamanya mengenai topik kompetensi (misal : penyusunan matriks kompetensi) dan pengukurannya (misal : wawancara metode BEI) baik dari studi literatur atau pelatihan, seharusnya setelah mengikuti pelatihan ini dapat langsung menyusun serta mempraktekan metode assessment centre. Akan tetapi jika peserta datang secara “kosongan,” memang belum tahu mengenai kompetensi, maka mengikuti pelatihan ini belum cukup untuk melaksanakan assessment centre di tempatnya masing-masing.

Kekurangannya, dari segi pelayanan kepada peserta, saya berharap biro ini dapat memfasilitasi peserta dari luar Depok untuk mendapatkan tempat penginapan yang dekat ke lokasi penyelenggaraan pelatihan. Pada angkatan saya, peserta berjumlah 19 orang dan hampir seluruhnya berasal dari luar Depok bahkan luar Pulau Jawa (6 orang). Fasilitas membantu peserta untuk mendapatkan penginapan itu lah yang belum diakomodir oleh panitia.

Di akhir hari kedua pelatihan, sebuah keributan kecil terjadi antara peserta dan pemateri, yakni pada saat praktek pembuatan laporan hasil assessment centre. Sudah biasanya peserta mengharapkan dapat membawa pulang modul materi, baik yang berbentuk hard ataupun soft copy. Pada saat praktek pembuatan laporan tersebut, pemateri hanya menunjukkan kepada peserta; “Nah ini lho contoh bentuk laporannya.” Namun saat laporan itu diminta oleh peserta, pemateri menolaknya dengan alasan bahwa bentuk laporan tersebut sudah menjadi ciri khas laporan assessment centre yang dilaksanakan oleh Logos. Pemateri mungkin takut peserta menjiplaknya. Di sini lah peserta agak meninggi emosinya. Bagaimanapun peserta memiliki pemikiran; “Kan kita sudah bayar !.” Kegeraman di sore hari tersebut sebetulnya sebuah puncak. Sedikit demi sedikit kekecewaan peserta itu sudah terbentuk sejak memasuki materi role play metode assessment centre di hari pertama. Setiap selesai role play, pemateri meminta kembali contoh-contoh soal yang kami jawab (contoh Problem Analysis, In Tray/ Basket dan LGD). Salah satu peserta berseloroh; “Pelatihan kok gak boleh bawa materi apa-apa.” Dengan tetap berusaha menjaga hubungan baik antara pemateri dan peserta, pemateripun menjawab sambil bercanda; “Ini ada HAKI-nya (Hak Kekayaan Intelektual) Pak.”

Saya mencoba memahami kekhawatiran pemateri mengenai praktek jiplak-menjiplak. Namun sebetulnya hal tersebut tidak perlu terlalu ia risaukan, mengingat :
  1. Materi Problem Analysis, In Tray/ Basket atau LGD sifatnya tailor made/ customize. Tidak bisa dijiplak begitu saja, namun tim assessor harus membuat sendiri soal yang sesuai dengan karakter pekerjaan assessee (orang yang di-assessment) dan lingkungannya (perusahaan/ institusi-nya). Contoh Problem Analysis yang diberikan kepada peserta saat itu ialah mengenai perusahaan kedirgantaraan (seperti PT.DI). Adalah sesuatu yang konyol bila saya membawa dan mempraktekkan problem analysis itu di perusahaan saya yang merupakan kontraktor pertambangan batu bara. Kenapa peserta tetap mengharapkan membawa pulang contoh soal/ studi kasus ?. Paling tidak peserta tahu bagaimana struktur yang baik dalam membuat materi soal/ studi kasus. 
  2. Sama halnya dengan bentuk laporan hasil assessment centre. Tidak ada standar baku, peserta dapat mengembangkan bentuk-bentuk lain yang lebih sesuai dengan permintaan fungsional di tempat kerja mereka. Kenapa peserta tetap mengharapkan membawa pulang contoh laporan ?. Bagi saya yang sudah terbiasa membuat laporan psikologis, paling tidak saya dapat mempelajari bagaimana redaksional yang baik dari deskripsi hasil assessment centre, karena deskripsi tersebut berbeda dengan laporan hasil psikotes. Bagi peserta lain yang tidak punya background psikologi, paling tidak mereka mengetahui struktur minimal sebuah laporan assessment centre yang baik.
Di luar kedua hal tersebut. Yang paling penting kenapa pemateri tidak perlu terlalu khawatir membagi materi contoh studi kasus dan laporan assessment centre ialah peserta belum tentu mampu membuatnya !. Walaupun menjiplak, persis seperti itu, tetap saja secara isian pada akhirnya harus menyusun dan merangkai sendiri. Belum-tentu-mampu (c’mon it’s just two days training !).

Agar adil, saya juga mencoba mengkritisi para peserta yang kecewa kepada pemateri :
  1. Dalam beberapa kali mengikuti pelatihan. Saya mengamati bahwa karakter sebagian peserta pelatihan itu ialah ingin menyedot semua sumber yang pemateri miliki. Kalau bisa, untuk materi-materi yang tidak dipresentasikan pun digondol. Peserta main tusuk flash disk ke laptop pemateri dan minta materi ini-itu. Memang betul bahwa terhadap ilmu itu tidak boleh pelit. Hanya saja kadang saya geli sendiri; “Kamu minta materi ini-itu memangnya buat apa sih ?.” Ada memang peserta yang sedari awal mulai pelatihan itu niatnya untuk sedot materi saja. Belum juga pelatihan selesai, dia sudah tanya-tanya ke pemateri; “Pak/ Bu nanti materi soal itu bisa saya minta gak ?.” Ada juga peserta yang tidak fokus ikut pelatihan, sehingga otomatis sepulang ke rumah dia hanya akan mengandalkan hand out yang dibawa. Selama pelatihan sibuk main HP, keluar-masuk ruangan, sekalinya concern sedikit-sedikit bertanya; “Materi itu ada kan di modul ? ada kan di CD ?.” Peserta model-model seperti itu memang ada. 
  2. Peserta sering kali gagal paham bahwa pelatihan-pelatihan itu umumnya hanya bertujuan membuka cakrawala wawasan. Teknis praktek yang menentukan ialah kemampuan peserta sendiri. Pendalaman materi ialah satu hal tersendiri. Terkecuali untuk pelatihan yang sifatnya memang untuk menguasai suatu keterampilan. Dari durasi saja jenis pelatihan tersebut bisa memakan waktu 1 bulan bahkan lebih. Jika hanya 1 hari, 2 hari, 3 hari, pelatihan-pelatihan yang durasinya masih bisa dihitung jari, omong kosong jika bisa membuat peserta mampu menguasai keterampilan tertentu.
Yang lebih penting lagi ialah membawa pulang materi, sebanyak apapun, tidak serta merta membuat seseorang mudah dalam mempraktekkan hasil-hasil pelatihan. Ini kembali kepada daya cerna, kreatifitas dan motivasi masing-masing peserta.
Itulah sedikit dinamika yang terjadi di jam-jam terakhir pelatihan. Cukup seru. Kembali ke pembicaraan awal mengenai pelatihan assessment centre dari Logos, rekomendasi saya kepada para pembaca adalah ; 
“Sebagai sebuah awalan memahami assessment centre, pelatihan ini sangat layak untuk diikuti. Materinya rinci-lengkap dan disampaikan dalam cara yang menarik. Dalam skala 1 – 10, mengenai kepuasan saya terhadap pelatihan ini, saya rasa angka 8 itu sangat pantas.”

3 comments:

  1. mba saya juga berminat mengikuti training ini, boleh minta contact mba untuk nanya@? Terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di klik saja mas/ mbak kalimat "biro logos consulting" yang ada di paragraf di atas, sudah saya tautkan ke situsnya. silakan lihat di situsnya saja untuk jadwal angkatan berikutnya.

      kalau males baca lagi... ya udah deh ni saya kasih link-nya :
      www.biropsikologiku.com

      makasih ya sudah datang dan comment... hehehehehe...

      Delete
  2. Maaf maksudnya mas :)

    ReplyDelete