Monday, November 9, 2009

TIMNAS SINGAPURA DAN SEPATU AL-ZAIDI

Selama dua pekan ini, rakyat Asia Tenggara dihibur oleh bergulirnya turnamen sepak bola Piala AFF. Turnamen yang dulu bernama Piala Tiger ini melibatkan seluruh negara sekawasan Asia Tenggara; dari yang masih balita seperti Timor Leste sampai yang sudah renta seperti Indonesia, dari yang fakir semisal Laos sampai Brunei yang bergelimang harta, dari yang besar oleh tangan asing seperti Singapura sampai Thailand yang belum pernah dipijak kaki penjajah.
Bukan hanya prestasi yang dikejar oleh setiap negara lewat turnamen dua tahunan ini. Akan tetapi, ada juga semacam pertarungan adu gengsi untuk membuktikan siapa yang terkuat, sehingga pantas dijuluki jawaranya sepak bola Asia Tenggara.
Oleh karena itu, bila anda perhatikan dan simak dalam pertandingan-pertandingan yang berlangsung. Di sana terdapat daya juang yang meluap-luap dari setiap timnas (tim nasional). Daya juang tersebut sangat unik, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Jadi, bisa dikatakan setiap negara mempunyai daya juang khasnya masing-masing. Dan perbedaan ini, menurut akal sehat saya (penulis) sangat mencerminkan karakter yang khas pula dari bangsa yang bersangkutan. Karakter yang terbentuk dari latar belakang dan pengalaman hidup bangsa tersebut.
Ada Vietnam yang tampil heroik, se-heroik bangsa ini ketika bertempur habis-habisan memukul si Rambo dari Amerika. Siapapun lawannya, bahkan sang macan Asia Tenggara, Thailand, taktik yang mereka tunjukkan relatif hampir sama yakni serang, serang dan serang terus. Ngotot, itulah yang terpancar dari gaya permainan Vietnam. Sebuah sikap petarung sejati; maju terus, tak pernah mundur-mundur barang selangkahpun.
Ada Indonesia yang tampil dengan persiapan minim. Lagu lama selalu terulang di setiap tahun; apapun event yang diikuti tim Garuda, langkah persiapannya selalu terkesan tidak optimal dan serba dadakan. Wajar, ini negara santai. Di saat timnas Myanmar dan Kamboja melakukan persiapan diri sedini dan semaksimal mungkin, di sini masih “asik-asik aja”. Kalau kata anak-anak gaul; “Slow aja bro !”. Meskipun kondisi alam kita sekarang sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu kala, sifat santai karena dimanjakan kekayaan alam dari nenek moyang nampaknya terus merintis sampai anak cucu.
Ada Kamboja yang tak mau dipandang sebelah mata. Seolah ingin menunjukkan; “Negara lain jangan menganggap remeh kekuatan kami !. Memang kami negara kecil, tertinggal, miskin, tapi bukan berarti kami enteng untuk disingkirkan !”. Walau tak diunggulkan sama sekali, timnas Kamboja muncul sebagai tim yang paling sesumbar. Sebagian kalangan men-capnya sebagai sikap tak tahu diri, tapi bagi saya ini namanya percaya diri. Singapura baru bisa menjebol gawang Kamboja di akhir babak pertama, Indonesia tidak mampu mengulang kejayaan mendulang gol, cukup empat saja kali ini dan Myanmar pontang-panting mencari celah untuk merobek jala Kamboja.
Ada Singapura dengan delapan pemain hasil naturalisasi-nya. Demi mengejar prestasi dan gengsi, timnas ini merekrut delapan pemain asing. Sudah tidak relevan lagi memang jika mereka tetap dipanggil pemain asing, karena secara de jure kedelapan pemain tersebut sudah sah jadi warga negara Singapura. Namun tetap saja mereka terasa asing, paling tidak bagi mata. Di tengah-tengah penduduk Singapura yang kita tahu merupakan campuran etnis Melayu-Cina-India, bermain di lapangan orang-orang berwajah bule dari Inggris, yang hitam legam dari Afrika serta yang sipit dari Asia Timur. Aneh kelihatannya. Terbesit sebuah pertanyaan; apakah dalam diri para pemain naturalisasi itu timbul rasa nasionalisme yang sama dengan Firman Utina saat mengenakan kaos merah putih ? dengan Tharateep Nowonthai saat menyanyikan national anthem negaranya sebelum bertanding ? dengan Indra Putra saat lari-lari demi mencetak gol untuk Negeri Jiran ? Penulis dan barang kali anda juga, pasti menjawab; “Tidak mungkin !”
Itulah mental negara Singapura ! Mental negara yang di-jaya-kan oleh campur tangan asing (dalam hal ini, Inggris). Di segala lini, bahkan sampai urusan sepak bola, negara ini ditopang sokongan pihak luar. Sulit untuk mengatakan bahwa negara ini negara mandiri, negara yang bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Pada saat yang bersamaan, di Irak, seorang wartawan bernama Muntadhar Al-Zaidi nekad menyambit Bush dengan sepatunya saat Bush berpidato soal kondisi di negara Irak. Tindakan yang konyol tapi sangat mencirikan kepahlawanan. Tindakan yang tidak muncul serta merta begitu saja, tetapi mesti ia didorong oleh rasa patriotisme dan nasionalisme seorang warga negara akan bangsanya. Tindakan yang kecil, amat sederhana, bukan granat yang ia lempar, hanya sepasang sepatu. Namun akibatnya merebak, meluas kemama-mana. Dari Irak sampai Mesir, ribuan penentang Bush, penentang Amerika yang imperialis, penentang perang, penentang pemerintahan boneka Irak, semuanya turun ke jalan memberikan dukungan kepada aksi Al-Zaidi.
Apakah Precious, Ji A Yi, Agu Casmir, Daniel Bennet, Fakhruddin dan pemain naturalisasi lainnya akan melempar sepatu juga kalau ada pihak manapun yang menghina negaranya yang sekarang, Singapura ? Sulit membayangkan ke arah sana.
Mudah-mudahan negara kita, Indonesia yang tercinta ini tidak sampai seperti itu. Meskipun banyak orang bilang, mungkin timnas kita baru bisa masuk piala dunia pada tahun 3000 kelak. Namun, kita tentunya berharap timnas kita pada tahun 3000 masehi itu tetap diperkuat tenaga asli pribumi, bukan naturalisasi macam Singapura.
Namun nurani tergelitik. Kondisi negara Indonesia sekarang sudah terlalu banyak dicampuri tangan-tangan asing, terutama di bidang pengelolaan sumber daya alam dan perekonomian secara umum. Kabar angin mengatakan bahwa demikian pula di sektor pertahanan dan kemanan negara, intervensi asing sudah merasuk jauh. Wah, kalau begini terus, jangan-jangan negara kita akan bernasib sama dengan Singapura. Apalagi ada pendapat kalau salah satu karakater khas orang Indonesia adalah bermental budak atau hamba sahaya. Jika demikian benar adanya, semakin terbuka lebar lah peluang kita untuk menjadi seperti Singapura.
Mungkinkah kita akan se-loyo Singapura dalam mengurus negara, sehingga segala perkara ini-itu harus selalu ada pihak asing di dalamnya ? Mungkinkah kita akan semaju negara Singapura namun itu hasil kreasi asing dan kita hanya berperan sebagai kulinya ? Kita tunggu saja nanti, siapa pemain asing naturalisasi yang pertama kali memperkuat tim Garuda.

No comments:

Post a Comment