Wednesday, January 20, 2010

BLACK COMEDY


"Ada kalanya lawakan tidak memancing tawa. Bukan karena garing, tapi isi lawakannya yang tidak etis".


“Kebayang lah, kalo Mas Tukul pulang ke rumah, yang nyambut itu bukannya istri tapi heh... heh... heh... heh (menirukan anjing yang menjulur-julurkan lidah)”. Penonton tertawa. Dengan cekatan, Tukul Arwana, host acara talk show tersebut, membalikkan; “Ya itu kan orang tua kamu !”. Gelak penonton semakin kencang. Bintang tamu malam itu, Ramzi – yang dikatai punya orang tua anjing – ikut-ikutan terpingkal. Ketika menonton kejadian tersebut, sama sekali saya tidak tertawa. Bagi saya tidak lucu mengatai orang tua sebagai anjing, walaupun konteksnya sedang melawak, humor belaka. Demikian juga, tidak etis kita malah ikut tertawa saat disebut orang tua kita itu anjing, lagi-lagi ditegaskan, meski konteksnya komedi. Bukan karena masalah anjing itu bagi sebagian kalangan dianggap binatang haram. Hewan ya hewan, itu poin pentingnya.

Mulut merupakan salah satu senjata utama dalam melawak. Hal yang paling mudah dalam memunculkan bahan tertawaan dari mulut ialah dengan menghina orang lain. Dalam pentas komedi, aksi saling hina antar pemain kerap dipertontonkan dan selalu berhasil memancing gelak tawa dari penonton. Tertawa semakin nikmat rasanya kala yang jadi objek hinaan ialah pelawak – pria atau wanita – yang secara fisik memiliki keunikan.

Hinaan memang bisa menjadi sesuatu yang mengundang tawa. Akan tetapi, hal ini juga memiliki batasan. Harus ada batas-batas sensitif yang membuat hinaan pengundang tawa ini tetap dalam kerangka humor semata, tidak lebih. Apa yang membatasinya ialah kesadaran etika. Ketika setiap orang punya kesadaran ini, ia akan lebih menyaring perkataannya, dapat memilah mana yang bisa dijadikan hinaan, mana yang tidak. Meskipun antara hal yang bisa dijadikan bahan hinaan dan tidak tersebut sama-sama punya potensi memancing tawa.

Apa yang dilakukan Tukul amat tidak etis. Orang tua dikatakan anjing ? Dan perilaku Ramzi juga tidak etis. Orang tua sendiri dibilang anjing malah ketawa ? Saya punya istilah sendiri untuk lawakan tidak etis seperti ini, yaitu black comedy. Kata black di sini konotasi-nya negatif. Bukan hanya Tukul dan Ramzi saja yang pernah melakukan “komedi hitam” macam ini. Pelawak-pelawak lain juga pernah. Tidak perlu disebut satu-satu secara detail. Tukul dan Ramzi cukuplah menjadi contoh yang mewakili mereka.

“Melawak itu sulit, butuh kecerdasan”, kata Andre Taulany saat diwawancara tentang kesan-kesannya terjun ke dunia komedi. Seorang pelawak harus jenius karena jika satu pola lawakan terus menerus ditontonkan, jelas pemirsa akan bosan. Pada titik ini, pelawak dituntut untuk selalu memunculkan ide-ide kreatif. Dalam melawak, seorang komedian juga mesti jeli membaca suasana, apakah lawakannya lucu atau tidak. Ketika apa yang direncanakan ternyata tidak berhasil mengocok perut penonton, komedian yang cerdas akan segera memunculkan ide baru yang sifatnya impromptu (tiba-tiba / dadakan). Dari segi ini, pelawak harus seorang yang quick thinker. Selain itu, dari sisi emosional, seorang pelawak juga harus punya kelapangan dada yang tinggi. Mengingat ada kalanya dia gagal memancing tawa dan mempertimbangkan pula adanya pola lawakan menghina. Ribet jadinya kalau pelawak gampang ambekan, dihina dikit marah. 


Dikarenakan sifat pekerjaannya yang demikian; menuntut kreatif, cepat berpikir dan cerdas secara emosi. Seorang pelawak senior tentunya diharapkan tidak akan pernah kehabisan ide humor. Kenyataannya memang seperti itu, para pelawak senior seakan tak pernah ada habisnya untuk memunculkan sesuatu yang lucu. Bagi mereka, saya juga punya sebutan tersendiri, yaitu black comedian. Lha kok sama dengan yang sebelumnya ? Beda... Black di sini konotasinya kreatif-inovatif seperti yang terkesan dari black-nya Djarum Black.


Fakta black comedian agak sedikit berbenturan jika kita melihat contoh perilaku yang diangkat dalam tulisan ini, yaitu komedi tidak etisnya Tukul. Saya menduga bahwa apa yang terjadi pada Tukul sehingga berlaku seperti itu ialah karena beliau terlalu emosi, entah itu karena tidak mau kelihatan kalah lucu dibanding Ramzi atau memang “panas” dihina Ramzi, sehingga apa yang ada di ujung bibir langsung main tembak saja, tidak dipikir-pikir dulu.

Emosi VS Berpikir. Dulu, sering dianggap sebagai kubu yang saling bertolak belakang, tak mungkin bersatu. Sekarang, para ahli psikologi modern menemukan bahwa antara emosi dan rasional itu ternyata harus berimbang. Terlalu mengedepankan emosi, tidak baik. Terlalu mengandalkan akal pikiran, juga tidak bagus. Komposisinya harus pas. Oleh karenanya, selain ada konsep Intellegent Quotient (IQ), dimunculkan juga konsep Emotional Quotient (EQ). Antara keduanya harus saling mengisi dan mengimbangi.

Keseimbangan emosi-rasional ini dibutuhkan individu terutama ketika ia berada dalam kondisi under pressure, agar individu mendapatkan solusi terbaik dan efektif dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Misalkan dalam situasi kompetisi blog yang diselenggarakan oleh Djarum Black ini. Anggap saja bahwa pressure-nya berasal dari (1) jumlah syarat artikel, (2) syarat keyword Djarum Black dan variannya di setiap artikel, (3) tenggat waktu pendaftaran artikel, dan (4) sesama peserta Black Blog Competition.

Ketidakseimbangan emosi-rasional mungkin akan berakibat satu dari berbagai kemungkinan ini; (1) jumlah artikel terpenuhi tapi kualitas isinya kurang, (2) tulisan sangat berbobot tapi jumlahnya kurang, (3) artikel isinya biasa saja dan jumlahnya tidak memadai pula, tapi tampilan blog cantiknya bukan main, dan (4) daftar sih daftar tapi satupun artikel tidak ada yang jadi. Di tengah pressure, peserta memiliki ambisi untuk mencapai satu goal, yakni memperoleh hadiah utama berupa note book, black berry gemini dan i-pod.

Di sinilah seninya sebuah kompetisi. Apa yang terjadi di dalamnya, pada hakekatnya merupakan cerminan dari realitas kehidupan. Blunder terjadi karena kita terlalu mengedepankan salah satu aspek saja, emosi atau rasional. Harus pintar-pintar mengatur ritme. Emosi boleh memimpin, tapi rasional jangan ditinggal terlalu belakang. Rasional boleh terdepan, tapi emosi jangan sampai dihilangkan kendalinya sama sekali.               
Sudahkah kita berimbang ?

3 comments: