Friday, May 27, 2011

JURU SORTIR


Terinspirasi dari peristiwa yang terjadi di Balikpapan, 14 Maret 2011.

Mata juru sortir tak berhenti melirik-lirik.
Sebentar ke mesin ketik elektrik.
Sebentar ke si orang di depannya, yang pakai baju batik.
Bukan barang yang sedang si juru sortir tilik.
Namun dia, si baju batik.

Ada hasrat ingin menolong.
Tapi hasil uji layak tak mau bohong.
Angka-angka itu jujur apa adanya.
Hei juru sortir ! Bagaimana kalau diotak-atik saja ?
Siapa tahu si baju batik bisa lolos dengan leluasa.
Aduh sial, si baju batik terlalu banyak punya nilai kosong.
Tak kuasa juru sortir menambal semua bolong.

Ya sudah juru sortir, jujurlah saja.
Belum berkata-kata si juru sortir, baju batik sudah merasa.
Butir tangis telah tampak mengkilap bak pantulan kaca.
Malah si baju batik dahului bicara.
Mengumbar kepedihan nasib hidupnya.
“Kalau Bapak tidak kasih jalan pada saya”
“Anak-istri mau makan apa ?”
Kata si baju batik sambil teteskan air mata.
Kini, juru sortir tambah pusing kepala

Juru sortir nampak kasihan
Akhirnya ia menggelar pertaruhan
Dengan hasil penuh bolong, juru sortir sodorkan kesempatan
Baju batik dilanda kesenangan
Tunggu dulu hei baju batik ! Dengarkan !
Juru sortir belum selesai beri keputusan
“Sekali kau tak becus bikin kerjaan !”
“Minggat ke kampung halaman !”

Juru sortir… Juru sortir…
Lain kali, kau wajib tega
Wajib tega
Wajib !

No comments:

Post a Comment