Monday, January 5, 2015

Dini Muda dan Dini Tua




Judul                  : Dua Dunia
Jenis                   : Kumpulan Cerpen
Penulis               : Nh. Dini
Penerbit             : Pustaka Jaya (cetakan pertama, 2014)
Jumlah halaman : 112

Buku Dua Dunia ini merupakan karya pertama dari Nh. Dini, seorang sastrawati feminis, begitu biasa para ahli dan pengamat mencapnya. Ditulisnya ketika Nh. Dini masih mengenyam bangku SMA, kemudian diterbitkan pertama kali di tahun 1956. Buku yang saya (resensator) pegang dan resensinya anda baca ini merupakan hasil terbitan Pustaka Jaya, tahun 2014. Pada buku terbitan 1956, Dua Dunia hanya terdiri dari 7 (tujuh) cerita pendek. Sedangkan di edisi Pustaka Jaya, Nh. Dini memberi bonus 3 (tiga) cerita sehingga genap 10 (sepuluh) jumlahnya. Ketiga cerita tersebut beliau tulis di tahun 1982 – 1983.


Sisi itulah yang menarik bagi resensator; 7 cerita “asli” dan 3 cerita “tambahan.” Ada perbedaan gaya menulis yang cukup kentara antara Nh. Dini di usia 20-an dengan Nh. Dini di usia 50-an. Kekuatan 7 cerpen pertama yang Nh. Dini tulis di usia belia terletak pada dialog. Sedikit deskripsi, banyak bincang-bincang. Melalui perbincangan antar peran inilah pembaca diajak untuk menerka-nerka mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam cerita. Ada semacam teka-teki yang memancing pembaca untuk “sok tahu” atas isi cerita yang sesungguhnya. Jawaban sekaligus kejutan tentu ada di penghujung cerita yang membuat pembaca ber-oh panjang dalam pikiran. Kejutan di akhir yang bisa membuat pembaca untuk berdiam sejenak, mengingat-ingat dan merangkai kembali penggalan-penggalan cerita lantas disambungkan kepada klimaks, sehingga barulah mendapat pemahaman yang utuh terhadap keseluruhan cerita.

Di bagian sinopsis yang tercetak di jilid belakang buku, seseorang, entah siapa menulis; “……seakan-akan untuk klimaks itulah ceritanya disusun.” Ya, hal itu terasa benar dan bagaimana Nh. Dini menyusun klimaks tersebut itu ialah melalui dialog antar peran. Paling terasa ada di 2 (dua) cerpen pertama, yakni; Dua Dunia dan Istri Prajurit.

Banyak dialog dengan latar tempat yang itu-itu saja; kamar tidur (Dua Dunia), ruang tamu (Istri Prajurit dan Pendurhaka), ruang warung (Perempuan Warung), kamar rawat inap (Penemuan), membuat cerpen Nh. Dini lebih mirip naskah drama yang di-cerpen-kan a la Utuy Tatang Sontani. Nama yang saya sebut barusan, ternyata muncul di salah satu cerpen, yakni di cerpen Penemuan. Tahun 1950-an, nama Utuy Tatang Sontani cukup tersohor, hingga saking terkenalnya, drama-drama gubahan yang bersangkutan – katanya – di era tersebut masuk ke sekolah-sekolah sebagai bahan ajar dan latihan siswa-siswi dalam mempelajari drama. Entah memang benar gaya bercerita Nh. Dini sedikit banyak dipengaruhi sosok Utuy atau tidak, sejauh ini resensator hanya menduga-duga saja.

Resensator tidak punya bahan lain karya Nh. Dini selain buku ini. Kalaupun pernah membaca, sudah dipastikan itu hanya berupa kutipan satu-dua paragraf yang tercantum di buku pelajaran Bahasa Indonesia kala resensator masih menempuh pendidikan di SMP dan SMA. Kutipan dari cerpen atau novel yang mana serta apa isinya, sehurufpun tak ada bayangan. Apa yang masih melekat sampai sekarang di dalam batok kepala resensator ialah bahwa Nh. Dini merupakan seorang feminis. Melalui buku Dua Dunia ini, petunjuk mengenai sabab-musabab nama Nh. Dini sering disandingkan dengan kata ‘feminis’ kurang-lebihnya sudah bisa  kita temukan. Kecuali cerpen Jatayu, keenam cerpen lain secara gamblang menyampaikan pesan penulisnya tentang bagaimana sepatutnya wanita dipandang serta diperlakukan oleh masyarakat. Pada saat yang bersamaan juga soal bagaimana seharusnya wanita menyikapi tuntutan zaman yang terus berkembang. Mungkin ini juga yang membuat Nh. Dini mengambil bentuk banyak dialog dalam cerpennya. Memang nampaknya lebih mudah dan sederhana untuk menyampaikan pesan-pesan inti dalam cerita melalui dialog. Penulis memecah kepribadiannya ke dalam beberapa tokoh kemudian menggambarkan pergelutan pemikiran di otaknya sendiri melalui adu argumentasi antar tokoh tersebut.

Adapun tiga cerpen berikutnya yang ditulis Nh. Dini di periode dewasa akhir, bisa dikatakan hampir kebalikannya. Tidak begitu banyak dialog, cerita disusun dalam deskripsi yang apik dan memikat. Ketika di tujuh cerita pertama nuansa ketegangan menyelimuti, di tiga cerita terakhir; Warung Bu Sally, Liar dan Keberuntungan, penyampaian lebih santai bahkan ada unsur-unsur jenaka yang bisa membuat pembaca mesam-mesem sendiri.

Pun demikian dengan isi cerita, ada pergeseran. Di tahun 1956, ketika buku ini pertama kali terbit, Nh. Dini menggambarkan tokoh-tokoh wanita yang masih dalam pergulatan. Berjuang untuk mencapai suatu nilai lebih tersendiri di mata masyarakat. Adapun di cerita yang ia buat di tahun 80-an, sebagaimana tercermin di Warung Bu Sally dan Keberuntungan, sosok wanita yang ia buat lebih hidup, aktif (mengambil peran), dominan dibanding sebagai pihak yang pasif, lemah, tersudut bahkan tertindas. Nh. Dini mencoba menunjukkan bahwa wanita bisa memainkan peran sebagai laki-laki, dalam hal-hal tertentu malah “mempermainkan” laki-laki. Jika ditarik sebagai sebuah proses yang berkesinambungan, maka seolah ada benang penghubung antara tujuh cerpen awal dengan tiga cerpen berikutnya, yakni; perjuangan yang akhirnya membuahkan “kemenangan.” Tentu saja hal inipun tidak bisa terlepas dari kondisi sosial, ekonomi dan budaya Indonesia yang dialami saat itu; saat dia hidup di era 50-an dengan 30 tahun setelahnya.

Proses, ya secara keseluruhan itulah yang resensator tangkap dari Dua Dunia edisi Pusataka Jaya ini. Tentang gaya bercerita (penulisan) dan isi kepala seorang gadis remaja dengan gaya tutur serta pemaknaan seorang ibu sepuh. Perbedaan yang nampak terasa. Apa yang sama antara Nh. Dini muda dan tua ialah kepekaannya terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitarnya. Seperti yang ia tulis sendiri di bagian pembuka; “Tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup dari pada hanya khayalan.” Dan kaya-karya tulis yang memotret dinamika kehidupan sosial, kendatipun ia tentang suatu masa yang lampaunya jauh sekali dari waktu kita di kekinian, ketika kita baca selalu saja dapat kita temukan relevansi-relevansi pola perilaku manusia. Mungkin karena itulah ada pemeo yang mengatakan; “hidup itu sekedar pengulangan dari pola-pola yang sama.”


Di mana bisa anda dapatkan buku ini ?
            Dua Dunia dapat anda peroleh dengan belanja on line via situs : www.FOboekoe.blogspot.com. Pemesanannya sangat mudah dengan pelayanan yang ramah dan terbuka. Buku ini layak untuk anda miliki sebagai koleksi, terutama bagi anda penggemar cerita pendek telebih lagi penikmat sastra lama. Anda tidak akan menyesal menyimpan karya yang memiliki nilai sejarah tersendiri dari seorang penulis legendaris sekaliber Nh. Dini.

No comments:

Post a Comment