Friday, October 23, 2015

MEMBILANG DAN MENGHITUNG DUNIA




Judul Film : π (Pi)
Sutradara : DarrenAronofsky
Pemain : Sean Gullete, MarkMargolis, Ben Shenkman, Pamela Hart
Rumah Produksi : Protozoa Pictures
Tahun Tayang : 1998
Durasi : 84 menit

Awalnya saya tidak terpikir untuk membuat resensi film π (baca: “Pi”, sebuah konstanta dalam matematika). Namun obrolan dengan seorang mitra kerja di suatu sore lepas jam kantor membawa saya kepada film ini. Mitra saya tersebut menceritakan kepada saya mengenai prediksi terjadinya hari kiamat yang ia dapat keterangannya dari seorang ustadz pada sebuah pengajian. Dengan memperhatikan dalil-dalil tentang penciptaan dunia dan perbandingan kehidupan dunia sekarang dengan akhirat, sang ustadz menyampaikan bahwa kiamat akan terjadi 1400-an tahun pasca kenabian Muhammad SAW. Dan masa tersebut jatuh pada abad ini.

Saya akan sampaikan ulang di sini seperti apa prediksi kiamat versi ustadz-nya mitra saya. Meskipun anda tidak pernah mendengar langsung dari mulut mitra saya tersebut, saya pastikan bahwa yang saya utarakan ini mungkin sedikit berbeda dengannya, tentu saja hal ini karena sudah ada unsur pemahaman dan interprestasi saya sendiri di dalamnya.

Baiklah begini :

Keyakinan umum umat Islam menyebutkan bahwa alam semesta dan bumi ini selesai diciptakan pada hari Jumat dan Allah akan menghancurkannya secara total juga pada hari itu. Artinya, umur hidup dunia itu sebetulnya tidak lebih dari seminggu saja (dari Jumat ke Kamis). Sebuah ayat mengatakan bahwa lamanya 1 (satu) hari di akhirat setara dengan 1000 (seribu) tahun lamanya di kehidupan kita. Bagi Allah, bumi kita ini hanya berputar selama 7 (tujuh) hari, yang berarti setara dengan 7000 (tujuh ribu) tahun bagi kita.

Nah, sekarang mari kita mulai berhitung. Jarak manusia pertama, Nabi Adam AS ke Nabi Isa AS ialah ± 4000 (empat ribu) tahun. Selama masa tersebut sempat terjadi jeda, yakni hampir lenyapnya seluruh peradaban manusia dan kehidupan di bumi akibat banjir dahsyat pada zaman Nabi Nuh AS. Pasca banjir, Nabi Nuh beserta segelintir kaumnya yang diselamatkan Allah SWT memulai kembali peradaban manusia dari sangat awal sekali. Dengan demikian, bisa dikatakan peradaban manusia kembali ke titik 0 (nol) tahun pada masa tersebut. Jadi, ada “masa yang hilang” di sini dalam menghitung umur manusia di bumi. Agar mudah menghitungnya, anggap saja masa yang hilang tersebut lamanya ± 1000 (seribu) tahun sesuai dengan usia Nabi Nuh AS. Sampai sini total masa dari Nabi Adam ke Nabi Isa ialah ± 5000 (lima ribu) tahun. Kemudian dari Nabi Isa AS sampai Nabi Muhammad SAW lamanya ± 600 (enam ratus) tahun.
“Sampai zaman Nabi Muhammad, berapa perkiraan usia bumi kita ?.” ± 5600 tahun
“Berapa asumsi umur bumi ?.” ± 7000 tahun
“Jadi berapa tahun perkiraan sisa usia bumi dari Nabi Muhammad sampai terjadinya kiamat ?.” 7000 – 5600 = ± 1400 tahun
“Jika benar demikian, kapan genap 7000 tahun usia kehidupan dunia tersebut ?.” Abad ini. Bila merujuk kalender Hijriah, per tulisan ini dibuat kita sudah berada pada tahun ke 1437. Batas maksimum ialah tahun 1499 yang dalam hitungan kalender Masehi sama dengan tahun 2077.

Oke, kita berhenti sampai di situ saja. Tidak perlu dipikir-pikirkan kelogisannya apa lagi sampai diperdebatkan panjang lebar. Selain karena kepastian hari kiamat itu pada ujungnya ialah sesuatu yang tidak pasti, entah kapan terjadi dan kita cukup mengimaninya saja bahwa ia pasti terjadi. Pun karena bukan hal tersebut yang menjadi tujuan dan inti dari tulisan ini.

Upaya meng-angka-kan suatu objek, lalu kemudian menghitungnya untuk menakar atau memperkirakan sesuatu, seperti yang dilakukan oleh ustadznya mitra saya adalah hal yang menjadi cerita utama Film Pi. Di awal film, kita langsung disuguhi oleh pemikiran Max Cohen (Sean Gullete) mengenai hubungan antara angka, matematika dan alam. Ia berasumsi :
1.   Mathematic is a language of nature (Matematika adalah bahasa alam)
2.   Everything around us can be represented and understood from numbers (Segala hal di sekeliling kita dapat dinyatakan dan dipahami melalui bilangan-bilangan)
3.   If you graph the numbers in any system, patterns emerge. Therefore there are patterns everywhere in nature (Jika anda menggambar bilangan-bilangan tersebut dalam sistem apapun, muncullah pola. Oleh karena itu ada banyak pola di alam ini)

Memegang asumsi tersebut, Max Cohen mencoba menganalisa semesta bursa saham. Max percaya bahwa bursa saham yang merupakan representasi dari keseluruhan dunia ekonomi bisa dipahami oleh logika matematika dan oleh karenanya dapat diprediksi secara akurat.

Max sendiri ialah seorang pengangguran terdidik. Saya katakan pengangguran karena tidak ditunjukkan sama sekali apa kegiatan Max yang menjadi sumber penghasilannya. Terdidik saya simpulkan dari pertemanan Max dengan Sole Robeson (Mark Margolis) yang nampak tidak sekedar seorang teman, lebih dari itu, ia adalah seorang mentor (mungkin dulunya dosen Max di perkuliahan). Sole tidak hanya guru bagi Max namun juga bagi para penonton. Dari mulutnya, terujar kisah-kisah menarik mengenai matematika dan kehidupan, misalnya ketika ia bercerita tentang Archimides dan filosofi catur Jepang (catur Go).

Tentu kita tidak hanya menyaksikan kegilaan seorang maniak matematika mengotak-atik jutaan kombinasi angka yang terpapar di papan bursa saham. Dalam suatu kesempatan, secara tidak sengaja Max bertemu dengan Lenny Meyer (Ben Shenkman), seorang Yahudi Hasidik yang kebetulan juga penggila angka. Lenny mengajak Max untuk membantunya dalam memecah misteri kitab Taurat yang tengah ia teliti. Awalnya Max tidak tertarik, namun setelah Lenny mempresentasikan keunikan huruf Hebrew yang segera ditangkap Max memiliki kemiripan dengan deret Fibonacci, Max pun terjun terlibat.

Di lain kesempatan Max terpaksa berjumpa dengan Marcy Dawson (Pamela Hart) yang terus mengejarnya dari awal cerita. Marcy yang merupakan utusan dari sebuah perusahaan menawarkan Max sebuah chip computer bernama “Ming Mecca.” Entah apa sebenarnya chip itu, namun yang pasti chip itu sangat hebat dan berharga hingga Max tak kuasa menolak tawaran tersebut. Marcy tidak memberikan chip itu cuma-cuma, ia meminta imbalan kepada Max berupa angka-angka prediksi untuk perusahaannya di bursa saham.

Max yang sudah pusing dengan penelitiannya sendiri akhirnya lalai baik dengan keterlibatannya di proyek Lenny maupun tuntutan imbalan dari Marcy. Hal berikutnya yang terjadi ialah Max diburu oleh kedua pihak tersebut.

Cerita Pi disajikan dalam layar hitam putih gaya film-film jaman dulu. Dilatari tata suara dan musik yang selaras, membuat film ini tidak hanya bisa dinikmati jalan ceritanya melainkan juga cara penampilannya. Sepanjang film sempat muncul beberapa tokoh lain seperti Davi, seorang wanita muda tetangga apartemen Max yang nampak menyukainya atau pria tua misterius yang kerap Max temui saat berada di kereta bawah tanah. Kedua tokoh ini selain menguatkan karakter peran Max sebagai seorang pintar tapi “aneh” yang tidak peduli apa-apa selain penelitiannya sendiri. Di sisi lain juga cukup mengundang pertanyaan; “Apakah mereka akan ikut menjadi bagian penting, bagian utama dalam kisah penelitian Max ?.”

Lalu bagaimana dengan hasil penelurusan Max ?. Apakah ia berhasil menemukan pola baku yang dapat memetakan dunia saham ?. Ya, Max menemukannya. Pola tersebut ada pada sebuah deret yang terdiri dari 216 angka. Sederet angka yang begitu sakti, yang demi menemukannya, Sole sampai-sampai meregang nyawa. Lanjut kemudian disusul oleh Max sendiri.

"Now, what is the moral of this story ?," tanya Sole pada salah satu adegan.
Apa sih yang ingin disampaikan Darren Aronofsky selaku arsitektur film ini pada kita ?. Jawabannya ada pada akhir film ini. Sederhana saja, film ini hanya mencoba menunjukkan kepada kita; bahwa dalam banyak hal, kerap kali yang terbaik ialah menjadi "bodoh" saja. Seorang stand up comedian yang saya tonton aksinya di youtube.com (sayang, saya lupa siapa), mengatakan; "Hidup itu untuk dijalani, bukan untuk dipikirkan." Just make it simple.

-FIN-   

No comments:

Post a Comment